Cerebral Palsy Parent Training

Cerebral Palsy Parent Training

This slideshow requires JavaScript.

Yayasan Rumah Cerebral Palsy (RCP) terlibat dalam sebuah acara bertajuk CEREBRAL PALSY PARENT TRAINING yang diselenggarakan oleh Indonesian Bobath Pediatric Association bersama Perhimpunan Fisioterapi Anak Indonesia. Kegiatan berlangsung pada tanggal 25 Januari 2018 bertempat di Rasuna Epicentrum Kuningan, Jakarta. Acara berlangsung mulai pukul 14:00 hingga 18:00 WIB dengan jumlah peserta 70 orang. Peserta didominasi dari berbagai tempat di Jakarta dan sekitarnya bahkan ada peserta yang jauh-jauh datang dari Kalimantan. Acara dibuka oleh Pak Ahmad Syakib sebagai ketua Ikatan Fisioterapi Indonesia. Pembukaan acara diisi dengan perkenalan tim dari The Asian Bobath Pediatric Instructors Association (ABPIA). Sebagai pimpinan tim adalah Mr. Hong Jun Sun, PT, MPH yang sekaligus menjabat sebagai Vice Chairman dari ABPIA disertai beberapa rekan Mr Hong yang berasal dari Korea Selatan.

Tidak banyak acara seremonial pada training kali ini, Mr Hong menyampaikan materi utama training dengan langsung memaparkan metode bobath bagi anak Cerebral Palsy. Mr Hong dibantu oleh dr Johannes Purwanto yang bertugas menjadi penerjemah dalam penyampaian materi kali ini. Berkat penerjemah yang lengkap dan detail peserta dapat lebih memahami paparan Mr Hong. Dari catatan yang ditulis salahsatu pengurus RCP dapat disimpulkan beberapa hal tentang metode bobath ini.

Ciri utama yang dialami penyandang Cerebral Palsy dan kelainan tumbuh kembang lainnya adalah adanya kelainan pada kondisi leher dan kepala. Dua macam jenis gangguan leher yang biasa dialami yaitu leher kaku (hipertonus) dan leher lemah (hipotonus). Leher kaku ditandai dengan posisi kepala yang selalu mendongak ke arah atas/belakang. Sedangkan leher lemah ditandai dengan kepala yang tidak tegak stabil selalu menunduk ke depan atau ke samping. Kondisi leher kaku atau lemah mengakibatkan anak merasa tidak aman dan memberi respon dengan menekuk (menegangkan) tangan dan kaki. Metode bobath yang diperkenalkan member ide bahwa stabilisasi leher dan kepala adalah hal pertama yang patut dilakukan dalam pelaksanaan terapi bagi anak cerebral palsy. Otot leher yang kaku harus direlaksasi dan otot leher yang lemah harus diperkuat. Alat bantu yang diperlukan adalah penyangga leher yang bahkan bisa dibuat sendiri dengan gratis dengan memanfaatkan busa bekas bantalan peralatan elektronik.

Kondisi selanjutnya yang harus menjadi perhatian adalah tungkai kaki. Pada kebanyakan penyandang cerebral palsy mengalami pemendekan tungkai kaki hingga pangkal paha. Kondisi yang lebih buruk lainnya adalah adanya dislokasi juga fraktur. Bisa terjadi karena kurangnya kaki merasakan sensasi menginjak / menjejak. Untuk melatihnya diperlukan sebuah alat bantu yang juga tak kalah sederhana yaitu sebuah bantalan (pad) yang terbuat dari busa. Letakkan bantalan tersebut dibawah tumit dengan cara menempelnya menggunakan mikropor (selotip). Dengan cara ini diharapkan sensasi menginjak / menjejak lebih kuat dirasakan oleh kaki, selanjutnya rangsangan ini diteruskan ke otak dan memberi respon kemampuan gerak tungkai kaki yang lebih baik.

Ide dari metode bobath adalah dengan memberi banyak rangsangan sensor kepada otak. Otak diketahui terdiri dari 70% syaraf sensori dan sisanya adalah syaraf motorik. Treatment pada tangan atau kaki yang spastik tanpa mengelola pemberian rangsangan yang baik pada otak akan sulit mendapatkan hasil yang maksimal. Hal ini terjadi karena adanya “locker” atau kuncian pada berbagai kondisi spastik. Misalnya pada tangan dengan kondisi spastik bisa dilakukan relaksasi pada jari2 tangan. Relaksasi pergelangan kaki untuk tungkai kaki dan paha yang spastik. Salahsatu “locker” yang juga krusial adalah mata karena secara alami posisi kepala dan leher akan mengikuti arah pandangan mata. Treatment dan relaksasi pada mata yang dilakukan dengan baik akan memperbaiki postur kepala dan leher. Kondisi leher dan kepala yang baik berperan besar dalam keseluruhan proses terapi seperti yang dijelaskan terdahulu.

Parent training kali ini memang hanya sebagai perkenalan dari metode Bobath yang coba disampaikan oleh Mr Hong. Selain masalah teknis tentang bagaimana memberikan treatment kepada penyandang cerebralpPalsy, Mr Hong juga memberikan gambaran penyandang cerebral palsy sedunia. Bagaimana kondisi serta sistem yang dijalankan oleh otoritas pemerintah di Negara lain dalam mengatasi permasalahan penyandang cerebral palsy. Mr Hong juga memberi penjelasan kepada peserta betapa kompleks-nya permasalahan seputar penanganan cerebral palsy. Permasalahan yang tidak akan bisa diatasi secara individu sehingga diperlukan kekompakan dari semua pemangku kepentingan dari mulai masyarakat dan pemerintah. Kekompakan untuk menciptakan sebuah sistem terbaik yang bertujuan memberikan layanan terbaik bagi para penyandang cerebral palsy.

Seluruh kegiatan diakhiri dengan sesi foto bersama yang diikuti oleh peserta dengan antusias. Peserta yang didominasi oleh ibu-ibu bergantian meminta ber-foto bersama tim bobath yang berasal dari Korea Selatan. Mungkin mereka beranggapan tim bobath mirip dengan artis2 korea yang sedang banyak digandrungi. Walaupun bukan artis tapi setidaknya mereka berasal dari Negara yang sama.
Ayo ibu-ibu jangan lupa semangat….!

Facebook Comments
Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *