Cerebral Palsy Spastic Hemiplegik

Cerebral Palsy Spastic Hemiplegik

Tampilan umum pada anak dengan spastik hemiplegik adalah equinus pada kaki dan pergelangan kaki; siku, pergelangan tangan dan jari pada posisi fleksi; serta ibu jari tertekuk kedalam telapak tangan. Sama seperti CP lainnya, variasi CP Spastik Hemiplegik terdiri dari yg ringan sampai berat namun dikatakan pada spastik hemiplegik alat gerak atas lebih terpengaruh dibandingkan alat gerak bawah.

Umumnya anak CP Spastik Hemiplegik dapat berjalan mandiri pada usia 18-21 bulan, cukup mandiri dalam aktivitas sehari2, dapat berbicara, dapat berpartisipasi dalam kegiatan bersama2 teman seumur dan mengikuti kegiatan sekolah. Kemungkinan disabilitas terbesarnya adalah retardasi mental, gangguan perilaku dan kemungkinan timbulnya epilepsi.

Karena anak dengan spastik hemiplegik memiliki fungsi sensorik dan motorik yang baik pada salah satu sisi tubuhnya maka manajemen tatalaksana motorik untuk mencapai kemandirian umumnya tidak terlalu sulit. Mereka membutuhkan tidak membutuhkan supervisi yang lama, dan terapi bisa dilakukan secara mandiri setelah mendapatkan petunjuk dari dokter spesialis rehabilitasi medik yg melakukan evaluasi awal.

Cerebral Palsy Spastic Hemiplegik

Latihan rutin harian umumnya menyebabkan anak menjadi bosan, sehingga harus direncakanan latihan dalam bentuk permainan, mengendarai sepeda atau berpartisipasi dalam kegiatan olah raga bersama teman lainnya. Terapi okupasi merupakan bagian yg penting karena alat gerak atas lebih terkena dibandingkan bawah. Melatih gerakan2 yang menggunakan koordinasi kedua tangan sangat penting untuk memaksimalkan fungsi secara keseluruhan.

Penggunaan brace/splint secara jangka panjang dikatakan kurang berguna karena tidak bisa menghindari kejadian spastisitas seperti kaki jinjit maupun tangan yg melipat kedalam. Brace/splint mungkin bisa sedikit mencegah namun bukti kearah tersebut tidak banyak ditemukan. Terutama untuk alat gerak atas dan tangan dikatakan penggunaan brace/splint bisa menghalangi mekanisme anak untuk beradaptasi dengan keterbatasan geraknya, oleh sebab itu penggunaan brace/splint sebaiknya dipakai berkala dan tidak terus menerus.

Tindakan pembedahan umumnya diperlukan bila kaki jinjit sudah tidak bisa diperbaiki dengan latihan. Tindakan pembedahan untuk alat gerak atas sangat selektif dan mungkin bisa memperbaiki penampilan dan fungsi, namun tidak akan pernah mengembalikan fungsi tangan menjadi normal.

Target utama pada penderita CP spatik hemiplegik adalah memaksimalkan edukasi dan panduan perilaku, mencapai maturitas mendekati normal sehingga didapatkan kemandirian fungsi dan integrasi komunitas yg sebaik2nya.

Sekian

Narasumber :

Nama : Dr. Patar Oppusunggu Sp.OT
Pekerjaan : Dokter Spesialis Orthopaedi dan Traumatologi di RSUD Kab Tangerang Banten.
Pendidikan :
– FKUI-RSUPN Cipto Mangunkusumo
– Departemen Orthopaedi dan Traumatologi FKUI RSUPN Cipto Mangunkusumo
– Fellowship Pediatric Orthopedic, Mumbai. India

Facebook Comments
Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *