Gangguan Pernafasan Pada Anak Dengan Gangguan Neurologis (Cerebral Palsy)

Narasumber : dr Johannes Ridwan T Sugiarto SpA, DPPS
Disampaikan pada seminar Jakarta Peduli Cerebral Palsy yang diselenggarakan pada tanggal 08 Februari 2014.

Gangguan pernafasan pada anak-anak dengan kelainan neurologis ( cerebral palsy )

Anak-anak dengan keterbatasan fisik sering mengalami gangguan pernafasan. Faktor yang berperan pada masalah gangguan pernafasan tersebut antara lain:

  • Aspirasi berulang.
  • Proses menelan melíbatkan sejumlah otot antara lain mulut, faring, laring,esophagus dan diafragma.
    Kegagalan dalam membentuk makanan ke bentuk halus, gangguan peristaltic esophagus, penutupan glottis , gangguan proses menelan bemafas dapat menyebabkan terjadinya aspirasi.

  • Gastro esophageal reflux
  • (GER) lebih seńng muncul pada anak dengan CP karena kekakuan otot abdominal yang mengakibatkan peningkatan tekanan intra abdomen.
    Kelemahan reflex batuk dan gangguan jalan nafas. Reflex batuk memerlukan kontraksí dari otot abdominal, íntercostals dan ketepatan antara ekspirasi serta penutupan glottis.
    Pada pasien dengan CP, reflex ini lemah sehingga sebagaì konsekuensi terjadi kelemahan protekai saluran pernafasan bagian bawah saat aspirasi dan gangguan jalan nafas akibat sekresi dari saluran nafas bagian bawah.

  • Kelemahan otot pernafasan.
  • Kelemahan otot pemafasan tergantung dari tingginya lesi spinal. Kelemahan ini dapat diukur dari kapasitas vítal dan tekanan maximal inspirasi-ekpirasi.
    Kyphoscoliosis. Akibat deformitas dìnding dada, akan menghambat fungsi paru dengan menurunnya fungsi pengembangan dinding dada dan penurunan fungsi otot pernafasan.

  • Sleep apnoea.
  • Pada keadaan normal proses pernafasan, otot faring akan mengalami kontraksi terlebih dahulu sebelum kontraksi diafragma, namun pada pasien CP proses ini’ terganggu yang ditandai dengan bunyi pada saat bernafas terutama saat tidur.

  • Obstructive sleep apnoea ( OSA)
  • Sering terjadi pada pasien CP. Akibat darì OSA: hipoksemia, hiperkarbia, hipertensi pulmonal, kejang, sakjt kepala, gangguan kesadaran, gangguan perkembangan, dan peningkatan resiko aspirasi.

  • Asma dan hiperaktif bronchus.
  • Tidak ada data yang pasti menunjukkan asma lebih sering muncul pada pasien CP namun kasus asma sulit terdeteksi pada pasien CP. GOR, asipirasi berulang dan bronkiektasis juga berhubungan dengan hiperaktif bronchus.

  • Nutrisi.
  • Malnutrisi menyebabkan katabolisme otot pemafasan sehingga terjadi atrofi, kelemahan dan penumnan fungsi paru- paru, serta menìngkatkan kolonisasi bakteri di saluran pemafasan.

  • Factor -factor lain:

Dysplasia saluran nafas bawah ( bronchus dan paru-paru ) pada bayi preterm,
Gangguan imun pada Down’s sindrom, Aspirasi lemak akibat pengobatan konstipasi , Penurunan perkembangan paru paru pada dysplasia skeletal.

Gambaran klinis dari gangguan pemafasan:

Infeksí paru berulang ( pneumonia, asma, aspirasì ),
Bunyì saat bernafas ( asma, stridor, sumbatan jalan nafas atas ),
Batuk lama, Episode apnoea.
Tahapan penilaian dan manajemen pasien dengan gangguan pernafasan: Anamnesa lengkap, termasuk riwayat terdahulu, Pemeriksaan fisik.
Buat daftar faktor – faktor penyulit.
Investigasi untuk mengklarifikasi factor penyulit tersebut, Penilaian ulang dan buat daftar pilihan terapi,

Terapi
Diskusì dengan orang tua pasien mengenai prognosis dan seberapa efektif terapi yang dìpilih.

Facebook Comments
Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *