Gathering Rumah Cerebral Palsy 2018

Gathering Rumah Cerebral Palsy 2018

This slideshow requires JavaScript.


Yayasan Rumah Cerebral Palsy telah mengadakan kegiatan yang berjudul ” Gathering Rumah Cerebral Palsy 2018″. Acara berlangsung tanggal 24 November 2018 bertempat di Kebun Binatang Ragunan Jakarta Timur. Posisi yang strategis membuat tempat itu dipilih kembali untuk menggelar acara gathering kali ini. Pelaksanaan gathering juga sekaligus memperingati Worl Cerebral Palsy Day yang diperingati pada tanggal 16 Oktober setiap tahunnya. Jumlah peserta yang hadir menurut catatan panitia adalah 150 orang Anak Cerebral Palsy (ACP). Jika rata rata seorang anak ditemani oleh 2 orang pendamping maka total peserta yang hadir sekitar 450 orang.

Kali ini acara diiisi dengan talk show berjudul Mencegah Dislokasi Tulang Pada Anak yang dibawakan oleh Dokter Patar Opusunggu SpOT dari RSUD Tangerang. Sebagai hiburan ditampilkan juga Kak Adi yang mengisi acara dengan dongeng yang begitu inspiratif. Sebagai gambaran suasana kegiatan gathering rumah cerebral palsy 2018 ini bisa dibaca dari tulisan Ibu Iis R Soelaiman, salah seorang pengurus Yayasan Rumah Cerebral Palsy yang beliau tulis di laman Facebook-nya.

GATHERING RUMAH CEREBRAL PASLY

Bertemu dengan satu teman saja sudah membuat saya bahagia. Apalagi ini bertemu dengan lebih dari 150 keluarga. Mereka bukan keluarga biasa, juga bukan teman biasa bagi saya pribadi. Mereka adalah para orangtua yang dititipi anak-anak berkebutuhan khusus. Mereka adalah teman-teman spesial yang mengajarkan banyak hal tentang hidup kepada saya. Banyak sekali….tak terhingga.

Kami dipertemukan karena anak-anak kami didiagnosis sama: Cerebral Palsy. Sama namanya, namun berbeda-beda ceritanya. Entah berbeda penyebab, awal mula, maupun derajat keparahannya. Namun, kami tidak ingin membicarakan perbedaannya, kami hanya ingin berkata tentang rasa dan cerita yang ada di rumah masing-masing. Selalu merasa ada kebutuhan untuk bertemu.

Pertemuan 24 November lalu memang istimewa. Rumah Cerebral Palsy(RCP) menggagas gathering dalam rangka ultah RCP ke-7 pada 17 November, juga dalam rangka World Cerebral Palsy Day (WCPD) yang jatuh pada 24 Oktober lalu. Persiapannya hanya 3 minggu. Tercetus begitu saja, “Ke Ragunan yuk, ajak anak-anak.” Disambut dan diiyakan oleh semua pengurus RCP. Gedabrukan. Iya, gedrabukan. “Duitnya dari mana?” Bismillah. “Acaranya apa?” Seneng-seneng aja. Yang penting ngumpul. Makanan potluck dan kita siapkan yang sederhana saja. Kemudian senyap. Bekerja sesuai tugas masing-masing.

Whatsapp group baru rame lagi 3-4 hari menjelang D-day. Gedabrukan lagi. Makluuuum…. Semua yang terlibat adalah #mamakrempong yang sibuk dengan anak spesialnya masing-masing. Gedabrukannya seruuuu…..

Lalu, bagi tugas lagi untuk hari H. Semua dikerjakan sendiri. Uuuhhhh….saya salut. Saya satu-satunya yang enggak kebagian tugas ha ha ha ha jahat yaaaa…. Maaaf ya #mamakrempong kesayangan.

Pertemuan di Ragunan itu hanya beberapa jam saja. Tidak dengan semua juga bisa mengobrol. Hanya saling sapa, melempar senyum, berjabat tangan erat, saling berpelukan hangat. Adakalanya kami bertukar cerita hanya dengan saling menatap. Namun, semuanya sarat makna. Energi yang mengalir ke dalam jiwa itu seperti pasokan listrik beribu watt, yang sebelumnya gulita. Berubah menjadi benderang.

Seorang Ibu bercerita, “Sebelumnya saya baperan. Merasa sendirian. Merasa hidup saya paling menderita. Ya Allah, saya jadi malu setelah melihat semua yang hadir di sini.”
Kendati sudah biasa mendengar kalimat ini mampir di kuping. Hati saya tetap bergemuruh sesak oleh rasa haru.

Tak pernah ada cita-cita Rumah Cerebral Palsy untuk beranggotakan sebanyak ini.Dulu kami hanya bersepuluh, berduapuluh. Berkumpul cukup di rumah. Berbagi rasa, melepas penat, juga bertukar informasi. Kini, member bertambah terus, ribuan. Bahkan, untuk memudahkan koordinasi dibuatlah RCP cabang. Ah gaya ya pake cabang segala. Ada RCP Betacici (Bekasi Tambun, Cikarang) RCP Bogor, RCP Depok, mungkin menyusul RCP Tangerang (iiih ini tugas saya banget secara saya tinggal di Tangsel, hiks hiks hiks…)

Dari waktu ke waktu, selalu ada anak baru dengan cerita baru. Sesungguhnya saya sedih ketika ada Ibu lain dan ibu lain lagi dan ibu lain berikutnya…. yang bercerita anaknya divonis menjadi penyandang Cerebral Palsy. Kalau boleh meminta pada Allah, “Jangan ada lagi yang CP. Cukup anak-anak kami.”

Saya selalu ingin memeluk para Ibu berhati pualam ini. Percayalah Bu, perasaan seperti itu pernah dimiliki oleh semua Ibu yang ada RCP. Merasa sendiri. Tidak punya teman berbagi. Tak ada tempat untuk bersandar. Sedih sepanjang waktu, tak berujung….

Apa yang kemudian mengubah itu semua? Bagi saya, merugi bila perasaan kecewa dan sedih yang menguasai diri. Saya lebih memilih menjadi Ibu yang selalu gagah melangkah untuk anak-anak saya, terutama untuk Rana.

Ah jangan dikira semudah membalikkan telapak tangan. Pilihan itu diniatkan dan dikhtiarkan dengan perjuangan. Namun, ketika kita menerima semua kondisi dengan hati yang lapang, eh kok langkah itu menjadi lebih ringan. Beban itu bukanlah beban. Semua kemudian dijalani dalam keriangan. Berapa lama butuh waktunya? Aaah…. Enggak usah diukur dan dihitung. Lakoni setiap perjalanan. Trust the process…. Sampai kemudian hanya tersisa Sabar dan Syukur. Dua hal itu saja, cukup. Percayalah.

Heeeiiii….kok jadi serius ya? He he he…. Padahal acara di Ragunan jauh dari serius, lo, ho ho ho. Semua tertawa bahagia. Saya malah bermimpi suatu hari, orangtua berkumpul. Anak-anak diasuh oleh volunteer. Sebentar saja. Satu-dua jam berjarak dengan anak-anak kita. Yang setuju, boleh angkat tangan….

Secara spesial, saya mengucapkan jutaan terima kasih buat MC dadakan Pak Dwi Heryanto, suami siaga-nya mbak Maya Taurusia (yang protes karena tidak ada yang motret dia sepanjang acara) Team wara wiri jempolan, Teh Yulietta Purnamasari the power of tongsis sehingga beliau paling eksis, Mamak Nafi Riva Adramsyah yang sudah menyediakan lonsay yang uendesss untuk panitia yang kelaperan, Mak Lettoy Faridah yang sudah menyediakan kue utah kereeen banget, Mami Hiro Sendy Christina Sunarsa yang sampai tengah malam nungguin produksi t.shirt. Mbak Yessi Dida yang sukses membawa rombongan Betacici pang kompakna. Mbak Nur Rahmah Desiana yang tetap cool diserbu ibu-ibu. Duo bapak Ade Sadikin dan Agus Kurniawan yang jadi fotografer dan peliput acara. Dan tentu saja Ibu bendahara Yanti Noorhayati Karim. Buat para donatur, semoga Allah membalas segala kebaikan Bapak-Ibu. Juga buat sharing ilmunya Patar Oppusunggu. :Baru kenal, langsung ditodong ya, Dok. Jangan bosan. Ayo bikin kelas kecil, Dok. hi hi hi….”
Buat semua yang sudah membantu yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu.

Peluk hangat saya buat para orangtua luar biasa. Kecup sayang buat anak-anak hebat. Terima kasih tak terhingga untuk cinta yang kalian hadirkan tiada jeda dalam jiwa kami. Semoga Allah merahmati kita semua. Allah memberi ujian, sekaligus Allah pun memberi kunci jawabannya. Mintalah hanya padaNYA.

Facebook Comments
Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *