Ibu ABK Dalam Keterasingan

Ibu ABK Dalam Keterasingan

Menjadi ibu seorang Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) adalah menjalani kehidupan yang mengaduk-aduk emosi. Salah satu masalah besar yang harus dihadapi adalah tentang keterasingan. Sebuah pernikahan pasti didasari sebuah harapan tentang membangun keluarga bahagia. Membesarkan buah hati bersama suami dan menghantarkannya menuju masa depan terang benderang. Namun hanya butuh sebuah diagnosa dokter untuk menghancurkan impian besar tentang masa depan terang benderang si buah hati. Sebuah diagnosa yang memberi label pada anaknya dengan sebutan ABK. Tiba tiba saja seorang ibu ABK tercebur dalam kehidupan aneh yang melibatkan dirinya dalam dunia ABK. Seorang ibu ABK seketika menjadi layaknya peneliti, menemui para ahli, berkonsultasi dengan banyak dokter, akrab dengan terapis hingga mengeluarkan seluruh kemampuannya demi mempersiapkan kehidupan terbaik yang mungkin dicapai oleh anaknya. Namun di tengah segala usaha tersebut justru Ibu ABK melupakan cara mempersiapkan dirinya sendiri dalam menghadapi perjalanan panjang ini.
Seorang ibu ABK tidak menyadari perubahan apa yang bakal terjadi dalam hidupnya setelah mengetahui ke”khusus”an pada anaknya. Lepas dari masa “penyangkalan” dan masa “berduka” bukan lantas membuat pertarungan emosional telah berakhir. Sebuah tantangan siap menyambut dan bakal jadi pertarungan yang bahkan lebih besar daripada diagnosa itu sendiri, tantangan itu bernama keterasingan.

Keterasingan seorang ibu ABK belum dirasakan ketika anak berusia 1-3 tahun. Pada usia ini anak dan ibu-anak sama-sama bermain di area yang sama yaitu di lantai. Setiap ibu masih bisa berinteraksi satu dengan lainnya tanpa masalah berarti. Perbedaan ABK dengan teman normal lainnya tidak terlalu besar. Seorang ibu ABK tetap dapat berkunjung ke rumah tetangga sambil menggendong anaknya. Orang asing yang melihat ABK diusia tesebut tak akan melihat adanya sebuah keanehan apapun. Namun demikian tanda-tanda keterasingan sebenarnya sudah mulai terjadi. Tanpa sadar ibu ABK kerap menolak ajakan teman untuk sekedar bertemu karena telah membuat janji dengan dokter.

Melewati masa ini, ketika usia ABK kita bertambah namun kemampuan tumbuh kembangnya tidak sesuai dengan usia. Perbedaan ABK kita dengan temannya tiba-tiba saja menjadi sangat terlihat. Ketika kebanyakan anak akan berlari kesana kemari dengan sendirinya, ABK harus didampingi ibunya melakukan apapun (meski kondisi tiap ABK bisa berbeda). Kalaupun ibu ABK bisa mengajak anaknya bermain bersama temannya, dia akan dihadapkan dengan dua pilihan. Menemani anaknya untuk mengimbangi permainan temannya atau tetap ber-sosialisasi dengan ibu lainnya walau dengan konsekuensi anaknya hanya menjadi penonton permainan. Dalam dua skenario ini tak ada istilah “win-win solution”. Kenyataan ini terjadi ditengah pentingnya hubungan pertemanan bagi semua orang termasuk ibu ABK. Sayangnya dalam dunia “parenting” bagi ABK masalah ini tenggelam dalam topik fisioterapi anak, pola tidur anak, pola makan anak, dll.

# Ibu ABK Dalam Keterasingan

Seringkali ibu ABK terpaksa memilih “jaga gawang” di rumah dan terisolir dari lingkungannya, tanpa seorang pun teman yang datang menemani untuk sekedar ngobrol atau melakukan hal lain bersama. Ibu ABK menyadari, saat bersama ABK-nya dia akan kesulitan bersosialisasi secara normal. Tentu saja bukan masalah besar jika dipaksakan untuk melakukannya dalam 1-2 jam, namun masalahnya hal ini terjadi sepanjang waktu.

Bagi keluarga ABK, bepergian kemanapun akan menjadi tantangan besar dalam melakukannya. Bahkan sebelum sampai di tempat tujuan, ibu ABK harus memikirkan dengan detail segala hal yang berpotenasi menjadi hambatan. Ruang publik yang tidak ramah disabilitas, suasana yang bisa memicu ABK tantrum, atau fasilitas layanan kesehatan dalam keadaan darurat. Semua tantangan inilah yang seolah menjadi alasan bagi kebanyakan ibu ABK untuk memilih tinggal di rumah. Orang lain bisa menyangka jika ibu ABK mempunyai waktu luang dengan kondisi itu. Prasangka yang sebenarnya keliru karena bagi ibu ABK melakukan hal sederhana pun harus dilakukan dengan usaha yang lebih keras.

Masalah keterasingan yang dihadapi keluarga ABK masih belum usai. Keterasingan yang terjadi pada kenyataannya bukan disebabkan kesalahan siapapun. Hal ini terjadi begitu saja, seolah sudah menjadi takdir yang tak bisa dihindarkan. Semakin bertambah usia ABK, rutinitas ibu ABK terus berputar pada konsul dokter, prosedur terapi yang tak berkesudahan, bolak-balik antar rumah sakit dan layanan kesehatan lainnya. Tak terlihat dirinya di pusat kebugaran, lapangan bola, sanggar tari dan tempat lainnya yang biasa didatangi anak pada umumnya. Jalan yang dilaluinya tak lagi sama, sedikit sekali persimpangan yang bisa mempertemukan dirinya dengan ibu-ibu lain. Pertemanan yang erat akan mudah lepas karena menjadi teman dari ibu ABK tidaklah mudah.

Asisten rumah tangga (pembantu) mungkin menjadi salahsatu solusi untuk melepaskan ibu ABK dari keterasingan. Dengan fakta bahwa di Indonesia, menjadi asisten rumah tangga masih menjadi satu pekerjaan yang banyak dilakukan orang. Namun tak semudah itu, mempercayakan pengasuhan ABK kepada orang lain. Banyak pertimbangan yang harus diipikirkan, apakah ABK kita tak akan diculik?, apakah ABK kita akan mendapat pola makan yang baik? serta banyak faktor lainnya. Andai pun semua resiko itu harus diambil maka satu pertanyaan terakhir adalah “adakah asisten rumah tangga yang mau mengasuh ABK kita?”. Saat ini, profesi asisten rumah tangga seringkali diremehkan namun sulit dicari. Posisi tawar mereka cukup tinggi, tak heran jika seorang calon asisten rumah tangga menolak pekerjaan dengan alasan tidak mau mengasuh bayi atau alasan lainnya.

Dalam keseharian ibu ABK dipenuhi dengan program terapi, konsultasi dokter, pembuatan alat bantu, menjaga persediaan obat, atau harus bolos kerja karena berbagai alasan pengobatan ABK. Mereka jarang mempunyai kesempatan untuk mereka sendiri, melewatkan akhir-pekan dengan jalan-jalan ke pusat perbelanjan menjadi sesuatu yang mewah. Kalupun itu terjadi tak akan mampu menghilangkan kenyataan yang harus dihadapi saat kembali ke rumah dan bertemu ABK-nya.

Keterasingan yang dialami tidak selalu dikarenakan faktor yang berasal dari luar diri ibu ABK. Tidak adanya waktu dan kesempatan untuk keluar dari keterasingan bisa saja diatasi dengan banyak upaya. Sayangnya, dikala ibu ABK mempunyai kesempatan untuk melakukannya sang ibu ABK sudah kehabisan tenaga. Anggap saja ibu ABK bisa sejenak bebas dari tugasnya, namun apa yang akan dilakukannya ketika benar-benar dia berkumpul bersama temannya?. Ibu ABK tetap akan mengalami situasi sulit , apakah dia akan lantas bercerita tentang kehidupannya bersama ABK, tantangan, kesedihan, pengobatan, terapi dan segala macamnya?. Atau dia tak akan membahasnya samasekali seolah tidak pernah terjadi apa-apa pada dirinya. Bercerita tentang kondisi sebenarnya berpotensi akan dianggap cengeng atau dianggap tak mencintai anaknya oleh orang lain. Akhirnya ibu ABK akan memasang topeng tebal dan berperan seolah setiap hujan selalu akan menghadirkan pelangi. Hidup terus berjalan dan ibu ABK melihat keluarga lain tumbuh penuh tawa dan kesenangan sementara dia tetap berdiri di satu titik. Mungkin itulah rasanya menjalani keterasingan yang dialami seorang ibu ABK.

Walau keterasingan tidak banyak dirasakan oleh ibu-ibu ABK, namun keterasingan itu nyata adanya. Pada satu contoh, sepasang suami-istri yang mempunyai seorang ABK baru menyadari bahwa mereka tak pernah pergi menonton bersama di bioskop hingga usia anaknya empat tahun. Jika anda seorang ibu ABK cobalah mendapatkan “Me time” dengan cara masing-masing. Berilah sedikit prioritas pada diri sendiri dan carilah pertolongan professional jika dirasa keterasingan itu bisa membawa dampak lebih serius seperti depresi. Tetaplah berjalan dalam bahtera rumahtangga dan selalu ingat bahwa ABK kita adalah berkah dalam kehidupan kita. Dan jika anda bukanlah seorang ibu ABK, janganlah lupakan kami. Kami tetap disini menemani anak-anak kami dan kami tetap membutuhkanmu sebagai teman selamanya.

Sebuah catatan di Hari Ibu 22 Desember 2018.
Sumber tulisan raisingtheextraordinary.com dengan beberapa penyesuaian.

Facebook Comments
Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *