Kisah Dibalik Pelatihan Home Therapy

Kisah Dibalik Pelatihan Home Therapy

Slamet

Pagi ini Bu Daronah harus bangun lebih sigap dari hari-hari biasanya. Mempersiapkan segala keperluan Slamet yang dijadwalkan mengikuti pelatihan terapi di Keanna Center. Slamet adalah seorang penyandang Cerebral Palsy yang kini berusia 14 tahun. Dari rumah kontrakannya yang terletak di daerah pondok cabe, Bu Daronah menumpang ojek menuju Keanna Ceneter. Suami Bu Daronah sendiri tak bisa mengantar karena sedang sakit. Dihari minggu biasanya tukang ojek bisa mengantar hingga ke tempat terapi yang terletak di daerah Cilandak. Sedangkan jika hari biasa tukang ojek tak bisa mengantar hingga ke tempat tujuan karena banyak langganan lainnya yang membutuhkan. Beruntung perjalanan di minggu pagi tak menemui kemacetan sehingga Bu Daronah bisa sampai di Keanna Center sebelum acara dimulai jam delapan pagi.

Ditempat lain, Bu Kuswati juga sibuk mempersiapkan segala keperluan Zakhi yang juga seorang penyandang Cerebral Palsy. Lokasi rumahnya yang berada di daerah pasar minggu memang lebih dekat dibandingkan perjalanan yang harus ditempuh Bu Daronah. Dengan sekali menumpang angkot Bu Kuswati bisa mencapai Keanna Center tanpa terlambat. Menggendong Zakhi yang badannya kecil dan kurus membuatnya tidak terlalu kesulitan saat menumpang angkot.

Bu Daronah dan Bu Kuswati adalah dua diantara beberapa orang peserta Pelatihan Home Therapy yang rutin diadakan oleh Yayasan Rumah Cerebral Palsy yang bekerjasama dengan Keanna Center. Seperti sebelumnya, kegiatan ini lebih ditekankan untuk menambah keterampilan orang tua dalam memberikan terapi bagi anak-anak CP mereka. Setiap peserta ditangani oleh para terapis yang dibimbing langsung oleh Pak Ahmad Syakib. Kondisi tiap anak yang berbeda memang membutuhkan penanganan terapi yang berbeda pula. Disinilah para orang tua diberi pemahaman tentang apa saja terapi yang harus dilakukan dirumah.

Persoalan teknis dalam melakukan terapi bagi anak CP memang fokus utama dari kegiatan ini. Namun tak menutup kemungkinan dalam kegiatan seperti ini juga malah menjadi tempat orang tua mencurahkan isi hati. Dikaruniai anak penyandang Cerebral Palsy memang tak luput dari berbagai tantangan dan hambatan. Tekad dan semangat yang kuat dari para orang tua sekali waktu juga dapat mengalami kemunduran. Menumpahkan perasaan kepada orang lain tentunya dapat mengurangi rasa lelah dan kebosanan yang kerap dirasakan dalam mengasuh anak-anaknya. Bu Daronah cukup galau dengan naiknya harga BBM saat ini. Keadaan Slamet yang tak memungkinkan jika harus menumpang angkot setiap pulang terapi memaksanya selalu menggunakan taksi. Tentu saja ongkos taksi yang harus dia keluarkan semakin membengkak dan memberatkan. Demikian pula dengan Bu Kuswati. Disela-sela kegiatan, Bu Kuswati bercerita bagaimana dirinya yang merasa telah melakukan usaha terbaik bagi anaknya. Namun perkembangan yang dicapai oleh Zakhi terasa jauh dari harapan. Bu Kuswati merasa tak habis pikir mengapa semua usahanya seolah gagal. Padahal banyak anak CP lainnya yang mengalami perkembangan lebih bagus dari Zakhi.

Zakhi

Keluhan Bu Kuswati pun ditanggapi langsung oleh Pak Agus sebagai ketua Yayasan Rumah Cerebral palsy saat ini. Dalam obrolan santai itu Pak Agus memberi saran-saran yang lugas dan tidak terkesan menggurui. Pengalamannya mengasuh ABK (bahkan dua orang ABK) membuatnya sangat paham apa yang dirasakan oleh Bu Kuswati. Sarannya memotivasi Bu Kuswati agar lebih sabar dalam menjalani semua proses terapi yang harus dilakukan Zakhi. Tak lupa Pak Agus juga menanyakan kabar keluarga Bu Kuswati. Pertanyaan yang malah membuat Bu Kuswati kembali curhat mengenai permasalahan yang dihadapinya. Menurutnya dia kurang mendapat support dari sang suami dalam menghadapi kondisi Zakhi. Kondisi ini memang banyak dihadapi oleh keluarga yang mempunyai anak penyandang Cerebral palsy dan ABK lainnya. Banyak ditemui salah satu pihak baik suami atau istri yang sulit menerima kondisi anak mereka yang mereka anggap tidak sempurna. Kondisi seperti inilah yang menyebabkan usaha memberikan pengasuhan terbaik bagi penyandang Cerebral Palsy menjadi lebih sulit.

Menanggapi ini Pak Agus mencoba meminta Bu Kuswati agar mengajak suaminya untuk sekali-kali turut bergabung dalam kegiatan pelatihan home therapy. Dengan demikian sang suami bisa melihat langsung apa yang dilakukan para orang tua disana. Dengan kehadirannya maka Pak Agus akan mencoba memberikan motivasi kepada suami Bu Kuswati dalam menghadapi kondisi Zakhi. Apalagi tujuan dibentuknya komunitas yang diwadahi oleh Yayasan Rumah Cerebral Palsy ini pada dasarnya adalah tempat untuk saling berbagi pengalaman dan wawasan mengenai segala macam masalah yang berkaitan dengan Cerebral Palsy. Masalah yang memang tidak melulu mengenai teknik, peralatan dan segala urusan materi pengasuhan bagi anak Cerebral palsy. Mengingat terkadang permasalahan psikis juga memberikan dampak yang besar bagi keberhasilan pengasuhan bagi anak penyandang Cerebral Palsy.

Facebook Comments
Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *