Spastic Diplegia pada Yazid

Yazid1

Tulisan yang dimuat ulang atas kebaikan hati Mba Maya Taurusia untuk dibagikan kepada pada orang tua dari anak Cerebral Palsy. Tentang Yazid putra Mbak Maya yang mengalami Cerebral Palsy tipe Spastic Diplegia.

Sumber : Majalah AULIA

RIDHO KEPADA ALLOH

Yazid terlihat ceria. Senyumnya mengembang dan matanya membulat jenaka. Siang itu, Bunda Maya baru saja menggendong Yazid dari kamarnya dan mendudukkannya diatas pangkuan. Saat bertemu AULIA, Yazid melemparkan senyuman cerianya. AULIA balas tersenyum dan Yazid memalingkan wajah seperti tersipu. Sebuah senyuman masih terlihat dibibirnya.
Tidak kepada AULIA saja Yazid menunjukkan sikap ramah. Menurut Maya, Yazid selalu ingin menyapa orang-orang baru yang ditemuinya. Dan ia juga tidak pernah terlihat kesulitan berinteraksi dengan orang lain. Sikap ramah dan rasa percaya dirinya yang tinggi adalah salahsatu karunia yang diberikan Alloh kepada Yazid, meski dimata banyak manusia lain, bocah ini memiliki banyak keterbatasan.
Saat hamil Yazid, Maya sempat diberitahu bahwa ia tengah mengandung bayi kembar. Namun menginjak usia kehamilan empat bulan, dokter memberitahu bahwa salahsatu janinnya meninggal. Sementara janin lainnya dikatakan dalam kondisi baik.
Untuk lebih memastikan kondisi janinnya yang hidup, Maya diminta melakukan cross check melalui proses USG detail ke rumah sakit lain. Oleh pihak rumah sakit, ia diberi pilihan untuk aborsi jika ternyata janinnya yang hidup tidak dalam kondisi baik.
Opsi itu tidak pernah dipilih Maya. Ia bersama suami memutuskan tetap meneruskan kehamilan. Dan ketika janinnya dinyatakan dalam kondisi baik, ia semakin mantap dengan keputusannya.

11 Desember 2006 Yazid lahir secara caesar saat usia kandungan Maya, mencapai 38 minggu. Secara fisik tidak ada kelainan yang ditemukan dokter, Kondisí Saat itu hanya agak kuning, namun masih dalam ukuran Wajar dan tidak perlu dirawat di rumah sakit.
“Saya putuskan untuk membawa pulang dan tidak dirawat di inkubator supaya Saya bisa menyusui dengan maksimal. Lalu satu minggu beríkutnya saat kontrol, Yazid sudah tidak kuning lagi,” kenang Maya.

MENGALAMI CEDERA OTAK
Pada bulan-bulan awal, tidak ada hal ganjil yang ditunjukkan Yazid. Seperti ketiga kakaknya Yazid berkembang dengan baik. Ketika usia lima bulan Yazid belum bisa tengkurap pun, Maya tidak lantas panik. Ia masih melihatnya sebagai hal yang normal, mengingat tiap anak memiliki perkembangan yang berbeda-beda.
Seiring berjalannya waktu, Maya sering mendapati tubuh Yazid menjadi kaku ketika menangis. Salah seorang temannya yang berprofesi sebagaí fisioterapis sempat mengatakan bahwa tubuh Yazid agak spastic (kaku).
Menginjak usía sembilan bulan, Maya akhirnya memeriksakan Yazid ke dokter syaraf di Fatmawati Jakarta Selatan. Dari sana barulah diketahui bahwa Yazid, mengalami cedera otak (cerebral palsy) tipe spastic diplegia atau kaku dikedua tungkai. “ Dokter bilang ada kerusakan di daerah otak yang diduga karena suplai oksigen saat dalam kandungan terganggu,” ujarnya.
Cedera otak yang dialami Yazid berdampak pada perkembangan motoríknya, seperti kemampuan untuk duduk dan berjalan. Namun melalui terapi dan akupuntur , saat ini banyak kemajuan yang sudah ditunjukkan Yazid.
Yazid saat ini mampu menegakkan punggung dan kepala, serta ia juga mengerti instruksi yang disampaikan kepadanya. Yazid juga mampu membangun komunikasi. “Kalau pake baju, misalnya, dia tahu mana baju yang mau dipakai. Kalu tidak suka, día akan memberi tahu,” Maya mencontohkan.

TIDAK MENJADI BEBAN
Saat bertemu dengan Bunda Maya, AULIA betul-betul terkesan dengan semangat dan síkap optimistisnya. Tidak terlihat ratapan sedih di kedua matanya karena seperti díakuinya, ia tidak membiarkan dirinya larut dalam kesedihan. Sang suami yang menjadi Salah satu penyemangatnya pun selalu mengingatkan betapa Allah memberikan banyak nikmat bagi keluarganya.
“Suami selalu bilang, ‘Kita sekarang punya empat orang anak dan ada tiga orang anak yang kondísinya baik. Allah hanya menitipi kita satu anak dengan kondisi sepertí Yazid’,” tutur Maya.”Akhirnya, Saya terbiasa untuk tidak menjadikan kondisi ini sebagai beban hidup saya.”
Melihat Yazid saat ini, justru rasa syukurlah yang Maya rasakan. Betapa banyak kelebihan yang ditunjukkan Yazid dalam kondisínya. Yazid tidak kesulitan untuk berinteraksi, daya tangkapnya baik, ceria, dan dokter pun sudah menyatakan bahwa kemampuan kognisinya (kecerdasan) sangat baik.
Bagí orangtua dengan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), ia menambahkan, sikap ridha dan meneríma ketetapan Allah adalah obat termanjur.“Ketika sudah plong meneríma kondisi anak kita, insya’ Alloh akan lebih mudah dalam menghadapinya,” tímpalnya.

SUMBER ILMU
Bagi sang bunda dan anggota keluarga lainnya, Yazid adalah sumber ilmu. Kehadiran Yazid mendorong Maya untuk memelajarí banyak hal baru, terutama yang berkaitan dengan cadera otak. Ia yang semula “buta” dengan istilah cerebral palsy ataupun spastik, kíni mulai memahami dan bisa membagi ilmunya dengan banyak orang.
Dan lantaran Yazíd rutin melakukan fisioterapi, Maya kini juga. mahír melakukan fisioterapi sendiri untuk Yazid. Pengasuh di rumah pun sedikit demi sedikit mulai mahir mempraktikan fisioterapi berkat transfer ilmu dari Maya.
Ia kini memahami bahwa cedera otak juga bisa terjadi setelah anak lahir. Bahwa sakit panas pada anak-anak harus diwaspadai karena bisa memicu cedera otak atau jika anak terjatuh keras, kondisinya parut dicermatí. Bukankah yang seperti ini adalah berkah?

Berkat Yazid . ketiga kakaknya kini memiliki rasa empati yang tinggi. Mereka menyadari bahwa diluar sana banyak anak lain yang kondisinya seperti Yazid. Dan walaupun anak-anak ini berbeda, mereka tetap memiliki hak-hak yang sama seperti anak lainnya. Saya juga selalu membiasakan ke anak-anak agar tidak malu dengan kondisi adiknya,” imbuh Maya.
Ia juga mengajarkan kepada anak-anaknya cara memperlakukan anak-anak berkebutuhan khusus. Maya mengatakan, anak-anak berkebutuhan khusus senang diperhatikan. Kalau bertemu dengan mereka, ajak untuk berkomunikasi.]íka ia masih kecil, pegang pipinya.
Semua ilmu yang dipelajari Maya dipakainya untuk membuat Yazid mandiri.”Dan kalau toh Yazid harus selalu memakai pertolongan orang lain, kakak-kakaknya harus siap. Jadi, sejak sekarang semuanya saya persiapkan,” papar bunda yang seminggu dua kali mengajar bahasa Jepang di sebuah SMK di Cipulir ini,

Facebook Comments
Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *