Kulakukan Yang Terbaik Untuk Dhaffa

Kulakukan Yang Terbaik Untuk Dhaffa

Kisah Bunda Dhaffa ini diceritakan untuk Rumah Cerebral Palsy. Bagaimana pahit getir perjuangan seorang Bunda membesarkan anaknya yang menyandang Cerebral Palsy.

dhaffa

Senang sekali ketika Rumah Cerebral Palsy (RCP) mempersilahkan para orang tua Anak Cerebral Palsy (ACP) untuk berbagi cerita suka duka merawat anak istimewanya. Saya ikut menulis cerita ini bukan karena ingin mengeluh, jauh lagi ingin minta belas kasih. Tujuan saya hanya ingin berbagi cerita agar teman2 yang lain bisa lebih sabar dan lebih bersyukur dengan keadaan yang telah ditakdirkan Tuhan kepada kita, dan saya juga berharap agar teman2 tidak semata2 menyalahkan orang tua yang tidak dapat membawa ACP-nya terapi rutin. Kisah pun di mulai…


Nama saya Rukiyah dan suami saya Tyo, kami menikah pada tahun 2010. Saat itu saya seorang mahasiswa di sebuah perguruan tinggi swasta di Lampung sedangkan suami saya seorang buruh di kebun tetangga. Alhamdulillah setelah menikah saya langsung hamil. Senang sekali rasanya menjadi calon ibu. Selama hamil itu saya tetap melakukan aktifitas sperti biasa yaitu kuliah. Saya hidup sendiri di tempat teman sedangkan suami di kampung mencari biaya kuliah. Setiap bulan saya bersemangat memeriksakan kandungan saya ke bidan, dan Alhamdulillah semua sehat. Selain memeriksakan kandungan, saya juga selalu berdoa agar anak saya kelak menjadi anak yang sholeh dan membahagiakan orang tua dunia akherat, lantunan ayat2 alqur’an selalu saya lantunkan setiap kali selesai sholat maghrib, isya dan subuh. Kehamilan semakin membesar, berat badan saya bertambah 22 kg di usia kehamilan 8 bln. Fantastis! Padahal saya tidak terlalu banyak makan. Bidan pun heran. Sehingga saya di anjurkan untuk USG. Tak pernah terpikir di benak saya dan suami untuk USG, karena kami berpikir pasti biayanya cukup mahal. Tapi saat itu karena saran bidan saya pun pergi ke Dokter untuk USG. Sungguh mengejutkan hasil USG yang menyatakan putra saya kembar. Tangisan tak dapat terbendung saat itu, apalagi saat itu suami tak ikut antar USG. Takut pastinya. Kembar. Bingung. Apa mungkin kami sanggup padahal biaya kuliah aja utang sana sini. Ya Alloh….inilah jalan Mu. Aku hanya seorang hamba dan Engkau Tuannya. Akhirnya saya sepenuhnya ikhlas menerimanya

Dokter menyarankan saya untuk bersalin di rumah sakit saat itu. Perkiraan bidan, saya akan bersalin tanggal 18 februari 2011 atau seminggu sebelumnya. Karena saat itu ujian kampus sudah selesai saya putuskan untuk pulang kampung. Dua hari di kampung saya merasakan kontraksi. Bidan kampung pun di panggil di rumah ( saat itu bidan masih boleh ke rumah pasien). Bukaan 2 saat itu kata bidan. Seperti yang lain, bidan Uli pun heran dengan besar perut saya, dan tentunya saya jujur jika putra yang saya kandung kembar. Kontan saya bidan Uli terkejut dan menyatakan ketidak-sanggupannya menangani proses persalinan putra saya dengan alasan medis. Saya dan suami sudah pasti kebingungan ketika bidan Uli menyarankan untuk membawa ke RS. Ya Alloh…uang dari mana untuk operasi? Suami ketika itu hanya memiliki tabungan 2 juta rupiah yang menurut kami sangat cukup jika untuk persalinan normal. Tapi untuk cesar kami tak ada pandangan. Suami tak lagi memiliki orang tua, dan orang tua saya sendiri bukan jenis yang peduli dengan keadaan anak. Akhirnya bidan Uli dengan segala belas kasihnya menawarkan pinjaman sejumlah uang kepada kami. Alhamdulillah kami dapat pinjaman sebesar 5 juta saat itu. Saat itu juga tepatnya hari Rabu; 15 februari jam 08.00 WIB kami menyewa mobil ke bidan kota berharap bidan yang biasa periksa kandungan saya mampu menangani tanpa harus operasi. Perjalanan yang kami tempuh dari kampung ke kota kurang lebih 2,5 jam dengan kondisi jalan yang rusak parah. Sampai di tempat bidan pukul 10.30. Sampai di sana saya tak lagi merasakan kontraksi. Biasa saja. Tidak ada gerakan. Akhirnya bidan memberi surat rujukan ke RSUD yang tak jauh dari sana. Kami pun kesana. Jam 11 kami sampai di RSUD, beberapa dokter muda pun memeriksa. Bukaan 4 katanya.satu jam, dua jam, tiga jam,,,sampai sekitar 5 jam saya masih terbaring sehat tanpa ada tanda2 akan bersalin. Bahkan ada saudara yang memberi saya air dari ‘orang pintar’ katanya agar cepat melahirkan. Tapi hasilnya nol. Hingga pada pukul 19.30 suami saya di panggil petugas. Suruh tanda tangan katanya

Ya…akhirnya saya memperoleh kepastian dari dokter. Saya operasi. Tak ayal lagi seluruh doa yang saya bisa, seluruh dzikir yang saya ingat, seluruh surat al qur’an yang saya hapal selalu keluar dari bibir saya. Sedikit lebay mungkin, tapi sungguh, saya adalah orang yang paling takut dengan jarum suntik apalagi alat operasi, tak pernah terbayang. Tepat pukul 20.00 saya masuk ruang operasi, saya harus menghabiskan 6 botol infus ketika itu, dan setelah itu saya di tinggal sendirian di ruang operasi tanpa satu petugas pun selama kurang lebih 15 menit sampai kaki saya kram. Saya pun berteriak memanggil dokter namun tak terdengar seorang pun mendekat. Hingga beberapa menit kemudian beberapa dokter datang untuk memulai proses cesar. Sungguh bayi yang sangat tampan. Bersih. Lucu. Rasanya saya merasa orang paling bahagia saat itu. Seluruh keluarga memberi tahu bahwa salah satu putra saya tidak dapat ditolong keesokan harinya. AllohuAkbar.!! Tak lagi menetes air mata ini. Saya ikhlas. Menurut cerita suami dan keluarga kedua putra saya lahir dalam keadaan normal. Berat badan Dzaki putra saya yg meninggal 3 kg, sedangkan Dhaffa 2,9 Kg. Singkat cerita kami pulang ke kampung setelah 5 hari di RSUD. Dokter mengatakan bahwa saya harus memeriksakan jahitan bekas operasi satu minggu yang akan datang. Saat itu hidup kami semakin berwarna setelah kehadiran pangeran kecil kami Dhaffa. Kami mengurus Dhaffa sendiri tanpa bantuan ibu saya. Alhmdulillah Dhaffa tumbuh jadi anak yang sangat menggemaskan. Satu bulan kami di kampung halaman. Karena saya harus tetap kuliah dan tak mau ambil cuti, akhirnya saya tinggal di tempat mbak-nya suami yang desanya tak jauh dari kabupaten tempat saya kuliah. Dhaffa mungil kami bawa serta. Dhaffa semakin sehat pertumbuhannya menurut kami dan tentu saja menurut bidan di posyandu. Berat badannya selalu naik. Minum ASI selalu walau kadang2 ketika saya kuliah harus minum susu formula. Senang rasanya melihat pertumbuhan Dhaffa yang tak pernah jatuh sakit. Bahkan ketika imunisasi sekalipun.

Dibalik kebahagiaan itu, kami menyimpan tanya, kenapa Dhaffa tidak seperti kawannya yang bangun lebih awal dan ngoceh.? Kenapa di usia Dhaffa yang ke-3 bulan belum kuat mengangkat kepala? Ahh…kata para tetangga itu karena Dhaffa terlalu gendut. Kami pun kembali hanyut dengan kelucuan Dhaffa yang murah senyum walau Dhaffa saat itu tak pernah tertawa lepas. Tinggal di tempat ipar tentu beda dengan tinggal di rumah sendiri. Banyak hal yang menyakitkan yang saya alami hingga saya memutuskan untuk pulang ke kampung saja. Saat itu usia Dhaffa 5 bulan. Dari kampong, saya menuju tempat kuliah dengan pinjaman motor bapak. Usia Dhaffa semakin bertambah. Memasuki usia 7 bulan keheranan saya pun semakin besar. Ada apa dengan putra saya? Kenapa masih belum tengkurap? Padahal sampai saat ini Dhaffa tidak pernah demam. Beberapa tetangga menyarankan saya untuk membawa Dhaffa ke ‘orang pintar’ karena mereka curiga Dhaffa diganggu kembarannya. Saya pun menuruti saran itu, pada saat yang sama saya juga membawa Dhaffa pijat syaraf di kampung. Bahkan dukun pijat menyarankan saya untuk memandikan Dhaffa dengan air campuran air cucian beras, bunga tujuh rupa, abu dapur, garam, sereh, dan air kelapa. Semua itu tidak boleh diganti hanya boleh ditambahi saja, hingga bisa dibayangkan bagaimana bau nya jika selama 4 bulan tidak diganti. Astagfirrulloh…akhirnya saya sadar apa yang saya lakukan sia2 saja. Tepat usia Dhaffa 11 bulan berbekal uang 300 ribu kami putuskan untuk membawa Dhaffa ke dokter spesialis anak di kabupaten. Kami berharap dokter bisa memberi pencerahan kepada kami tentang keadaan putra kesayangan kami. Tapi semua itu hanya mimpi bagi kami. Karena dokter justru menyalahkan kami dengan kondisi putra kami. Dokter mengatakan bahwa Dhaffa keracunan saudaranya di dalam kandungan. Padahal selama proses persalinan dan sesudahnya pihak keluarga tak mendapat pemberitahuan apa pun tentang keadaan Dhaffa. Vonis dokter yang mengatakan Dhaffa selamanya hanya mampu tidur di atas tempat tidur bagai halilintar yang menyambar seluruh jiwa ini.

Hanya tangis kebingungan yang tertumpah saat itu. Dhaffa dengan lucunya menendang2kan kakinya saat diletakkan di atas timbangan bayi. Ya Alloh Tuhan Yang Maha Pengatur Kehidupan, ujian apalagi ini ya Alloh? Apa dosa ku? Mengapa aku yang Kau pilih? Mengapa harus Dhaffa? Kami harus mengeluarkan uang 60 ribu untuk semua mendengar vonis dokter tersebut ditambah 150 ribu untuk menebus obat untuk kakunya Dhaffa. Sejak saat itu kami tak lagi percaya dengan dokter. Bagi kami semua kata-kata dokter terlalu berlebihan dengan tidak memberi harapan kepada Dhaffa. Kami pulang dengan sejuta luka. Kepulangan kami dari dokter disambut para tetangga. Hanya tangis jawaban saya saat itu. Dan saat itu juga uang sisa dari dokter saya pakai untuk mengadakan doa bersama untuk Dhaffa. Saya berharap doa orang yang baik ilmu agamanya di sekitar saya mampu membuat Dhaffa lebih baik. Seminggu kemudian kami putuskan untuk membawa Dhaffa ke lampung utara tempat mbak saya. Katanya disana ada ‘orang pintar’ yang bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Dhaffa dan ayahnya saya tinggal di rumah mbak saya, sementara saya melanjutkan kuliah saya yang bertepatan dengan ujian semester. Satu bulan kemudian saya kembali ke tempat mbak saya. Belum ada perubahan, Dhaffa harus ganti nama katanya. Akhirnya nama panggilan Dhaffa diganti dengan ‘Dzakaria’. Sholawat nariyah selalu saya lantunkan di dekat Dhaffa. Pijat syaraf 2 hari sekali. Semua normal. Dhaffa sehat. Hanya tangannya masih menggenggam. Cukup satu bulan. Kami tak bisa terus menerus hidup jadi benalu saudara. Suami memutuskan pulang kampung. Hari-hari Dhaffa lebih sering bersama ayahnya karena saya tetap melanjutkan kuliah saya. Dan neneknya Dhaffa sejak Dhaffa usia 8 bulan tak lagi mau ikut merawatnya. Kami tetap membawa Dhaffa pijat. Dan ketika usia Dhaffa 2 t ahun,saat itu pijatan yang ke-lima kalinya dari dukun pijat yang ke-lima, selama sepanjang malam Dhaffa tidak tidur dan bisa tertawa lepas layaknya teman2 yang lain. Subhanalloh.. Layaknya mendapat air di gurun sahara, kebahagiaan yang saya rasakan.

Saat itu saya langsung sholat sunah sebagai tanda syukur dan membacakan surat Ar-rahman di samping Dhaffa dan Dhaffa tertawa kegirangan. Waktu berlalu, perkembangan Dhaffa hanya sampai bisa tertawa. Saya tetap bersyukur dengan semua itu. Untuk kedua kalinya kami membawa Dhaffa ke dokter spesialis anak di kabupaten, tentu dokter yang berbeda, bukan dokter yang dulu. Alhamdulillah kata2 dokter kali ini sedikit menyejukkan hati kami. Beliau memberi harapan untuk Dhaffa bisa mandiri dengan syarat harus berlatih. Dengan biaya konsul dan obat sekitar 250 ribu, kami disarankan kembali lagi sebulan yang akan datang. Sejak saat itu saya mulai mencari di internet apa sebenarnya penyakit Dhaffa. Apa hanya lingkar kepala kecil atau ada istilah lain. Akhirnya saya menemukan informasi bahwa lingkar kepala kecil adalah Mikrosefali. Dengan ciri2 seperti Dhaffa saya juga jadi tahu kalau Dhaffa juga mengalami Cerebral Palsy (CP) walau tak tau pasti CP jenis apa. Satu bulan berlalu, seharusnya saya bawa Dhaffa kembali ke dokter, tapi kami tak mempunyai uang sehingga kami memutuskan untuk tidak membawa ke dokter… Maafkan Bunda sayang…maafkan Ayah sayang.

Kami kembali membawa Dhaffa ke ‘orang pintar’ atas saran saudara. Hanya satu bulan. Karena kami sadar kami tak ingin lagi menambah dosa dengan mempercayai selain Sang Pencipta. Hingga akhirnya saya menemukan Rumah Cerebral Palsy ( RCP ) dan saya jadi tahu bahwa Dhaffa tidak sendiri walau teman2 Dhaffa lebih beruntung. Sekarng usia Dhaffa sudah 4 tahun 2 bulan. Dhaffa masih terbaring seperti anak usia 2 bulan. Dhaffa sering tertawa mendengar hal2 yang sepele jika lagi senang, tapi Dhaffa juga sering ketakutan dengan suara apapun jika lagi tidak enak badan. Alhamdulillah sekarng Dhaffa sudah mulai bisa minum susu pake gelas walau belum bisa pegang sendiri. Alhamdulillah sekarang Dhaffa sudah bisa beli gymball untuk latihan. Alhamdulillah untuk masalah makan Dhaffa tidak terlalu bermasalah karena Dhaffa bisa makan seperti anak2 yang lain walau belum bisa makan kerupuk. Dan Alhamdulillah sekarang saya sudah lulus dan bekerja sebagai guru honor di sekolah tidak jauh dari rumah.

Namun hingga saat ini kami belum bisa bawa Dhaffa terapi seperti teman2 lainnya. Hingga saat ini neneknya Dhaffa masih belum mau nengok Dhaffa walau jarak rumah kami hanya 5 menit jalan kaki. Namun hingga saat ini nenek Dhaffa masih buang muka jika berpapasan dengan Dhaffa. Namun hingga saat ini saya tetap memilih Dhaffa, tetap mencintai Dhaffa, tetap berharap Dhaffa bisa mandiri. Namun hingga saat ini kami tak pernah menyesali keadaan ini. Sekali lagi, maafkan bunda sayang, maafkan bunda yang tak bisa seperti bunda2 teman2 mu. Maafkan bunda yang kadangkala harus cari pinjaman hanya sekedar untuk beli susu yang sekalengnya hanya 10 ribu. Maafkan bunda yang hanya baru sekali ajak kamu ke kolam renang. Bunda berharap Dhaffa tetap bangga menjadi anak bunda. Dhaffa tetap mau menolong bunda di akherat kelak dan Dhaffa tetap bersyukur dan bersabar dengan keadaan ini. Semoga teman2 Dhaffa membaca cerita ini dan tak ada lagi yang berfikir bahwa kami kurang berusaha untuk Dhaffa. Karena hanya orang tua yang hilang ingatan yang tidak mengusahakan yang terbaik untuk anaknya. Demikian kisah Dhaffa, semoga mampu membuat kita semakin bersyukur dengan segala takdirNya.

Facebook Comments
Share Button

4 thoughts on “Kulakukan Yang Terbaik Untuk Dhaffa”

  1. Assalamualaikum bunda Daffa…terharu mendengar ceritanya,saya juga punya anak Cp dan baru terdiagnosa 1 minggu lalu
    Saya juga punya permasalahan yg sama tentang biaya terapi bunda….tapi sedikit saran saya,sekarang ada bpjs yg memudahkan kita mendapatkan perawatan tanpa biaya besar walau tidak sebagus di tempat yg non bpjs mungkin.pengalaman anak saya sekarang terapi 3x seminggu tidak keluar biaya (kecuali transport)
    Saran saya segera buat bpjs dan periksakan daffa agar segera mendapat latihan,kasihan daffa jika mendapat latihan rutin.tetap semangat ya bundaa peluk cium buat kakak daffa dan bunda.
    Ingin saya berbagi cerita lg dg bunda.kalau ada waktu hubungi saya ya di 085312849495

    1. dear bunda agha,

      mohon maaf bun, sekedar ingin menanyakan. bunda agha tinggal didaerah mana?? Rumah sakit mana yang bisa terapi tanpa biaya dgn menggunakan BPJS.

      salam,
      abi haya

  2. Untuk Ibu dhaffa, harus kuat dan sabar, jangan pernah mempertunjukkan kesedihan di depan dhaffa. Saya juga mempunyai anak terkena cerebral palsy juga, sampai sekarang harus di fisiotherapi,. Untuk anak dhaffa, kamu yang kuat yang nak…Allah dan kami semua menyayangi mu nak….

    1. Terima kasih untuk dukungannya. Tentunya dukungan yang sama untuk semua Anak Cerebral Palsy se Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *