Menyongsong Gelar Untuk Anakku

Abu DzarAlghifari

Kisah ini ditulis langsung oleh Bunda Herawati Zakaria yang mempunyai anak bernama Abu Dzar Alghifari. Tulisan telah melalui proses edit tanpa mengubah makna tulisan.

Anugerah luar biasa dikaruniai buah hati bagi setiap pasangan dalam rumah tangga. Begitu juga dengan kami yang dikaruniai seorang putra pada tanggal 29 juli 2007 bernama Abu Dzar. Setelah usia pernikahan kami lebih dari 3 tahun dia baru hadir dengan fisik yang sempurna dan paras yang tampan. Luar biasa bahagianya saya dan suami. Kami berusaha memberikan yang terbaik untuk dia. Termasuk untuk imunisasi pun kami usahakan ke dokter Spesialis Anak ditempat prakteknya, bukan di puskesmas biasa yang bisa murah bahkan bahkan gratis. Ini sebagai wujud cinta dan bahagia kami untuk anak kami.

Tahun 2008 saat usianya masih 6 bulan, awal kesedihan kami dimulai karena di usia ini Abu Dzar anak kami di vonis jantung bocor dan harus segera . Sekali lagi karena kami ingin memberikan yang terbaik buat dia jadi kami tanpa pikir panjang kami bawa dia ke salah satu rumah sakit besar terbaik di Jakarta untuk menjalani operasi dengan biaya pribadi dan jumlah biaya yang tidak sedikit. Pasca operasi jantung dia diharuskan untuk memakai peace maker (alat pacu jantung ) yang ditanam dalam kulitnya untuk seumur hidup. Lagi lagi alat ini tidak murah bagi kami namun alhamdulillah bisa kami bayar dengan biaya pribadi. Jangan berpikir kami orang kaya, kami orang biasa yang saat itu suami lagi kerja kontrak di BRR (Badan Rehab Rekon) pasca tsunami Aceh dengan gaji yang kami rasa cukup besar. Akan tetapi tidak bisa mencukupi semua biaya rumah sakit yang begitu besar hingga ratusan juta. Dengan ijin Allah masalah uang saat itu begitu mudah kami dapatkan mulai dari uang sendiri, keluarga, dari bantuan dengan ikhlas hingga pinjaman yang harus kami kembalikan saat keluar dari rumah sakit. Pulang ke Aceh setelah dua bulan di rumah sakit. Dengan menjual beberapa barang dan mobil alhamdulillah bisa terbayar pinjaman dan alhamdulillah Allah telah memberi gantinya yang lebih baik.

Di tahun 2009 dia kembali menjalani operasi, kali ini hanya operasi hernia saja, tapi tetap sebagai orang tua sedih melihat dia harus terbaring lagi di rumah sakit. Belum selesai juga, karena usianya yang terus bertambah tapi kemampuan dalam tumbuh kembangnya tidak berubah hingga dokter memberi dia gelar Cerebral Palsy (CP). Tahun berjalan gelar untuk Abu Dzar anak kami bertambah yaitu EPILEPSI.

Pada mulanya tidak mudah menerima kenyataan ini semua apa lagi setiap tahun kami harus membawa dia untuk kontrol peace maker ke Jakarta atau ke Penang. Pertanyaan kenapa harus saya yang di uji seperti ini? menjadi pertanyaan ini sering muncul. Alhamdulillah suami begitu sabar dan luas ilmunya dan selalu memberi nasihat agar saya bisa ikhlas.

Sekarang saya masih sering menangis tapi bukan menangis sedih melainkan terharu dan bersyukur karena Allah memilih saya untuk menjadi orang tua dari Abu Dzar. Allah tidak memilih kakak atau abang saya tetapi Allah memilih saya yang merupakan anak perempuan terakhir dalam keluarga saya. Saya juga terkenal pendiam serta terlihat lemah dalam fisik tetapi Allah justru menganggap saya kuat dan mampu. MasyaAlloh.

Semoga cerita ini bisa untuk motivasi teman semua.

Salam kenal dari saya Herawati, umminya Abu Dzar Alghifari, di Banda Aceh.

Facebook Comments
Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *