Operasi Bedah Tulang Pada Cerebral Palsy

Operasi Bedah Tulang Pada Cerebral Palsy
bedtul2
Anak saya (Gilang) baru saja menjalani operasi bedah tulang pada tanggal 3 November di sebuah rumah sakit di kawasan Kebayoran Baru Jakarta Selatan. Saran pembedahan diberikan oleh dokter Luh K Wahyuni SpRM yang selama ini menanganinya. Operasi pembedahan diperlukan karena telah terjadi subluksasi pada pangkal tulang paha sebelah kanan. Kepastian terjadinya subluksasi didapat setelah melihat hasil foto rontgen. Pada anak cerebral palsy terjadinya subluksasi sering terjadi karena pertumbuhan tulang tidak disertai dengan pertumbuhan otot. Otot yang spastis (kaku) menyebabkan tulang tertarik hingga melintir dan terlepas dari tempatnya. Diskusi dengan dokter bedah tulang menghasilkan beberapa keterangan yang bermanfaat bagi saya dan semoga juga bermanfaat bagi rekan lainnya.

Dokter bedah menerangkan bahwa tindakan operasi bedah untuk subluksasi atau dislokasi bisa dilakukan beberapa cara. Yang paling ringan adalah dilakukan dengan “release adductor muscles” yaitu menghilangkan otot kaku dengan cara memotong ototnya sebagian. Pemotongan juga bisa dilakukan terhadap tendon dengan tujuan sama yaitu untuk menghilangkan kaku otot. Cara yang paling berat adalah dengan dilakukannya rekonstruksi tulang. Seringkali sambungan tulang tidak berfungsi baik karena hilangnya bagian tulang penyangga yang mencengkram ujung tulang pasangannya. Dengan membuat “rumah” baru maka diharapkan ujung tulang tidak mudah lepas. Namun tentu saja operasi rekonstruksi tulang ini membutuhkan biaya besar dan tingkat kesulitan lebih tinggi.

Yang diharapkan setelah operasi :

– Dengan operasi diharapkan otot yang menarik tulang paha hingga lepas bisa kembali lentur.
– Pemakaian AFO dan terapi yang baik bisa membantu tulang kembali ke posisi ideal.

Operasi bedah tulang biasanya disarankan jika kondisi anak cerebral palsy :

– Tulang yang mengalami subluksasi / dislokasi menyebabkan rasa sakit dan menyulitkan proses terapi.
– Subluksasi semakin lama menyebabkan kondisi semakin buruk.
– Terjadi kontraktur.
– Terjadi kerusakan fungsi sendi.
– Perubahan bentuk yang menyebabkan hilangnya kemampuan untuk mandiri.

Koreksi yang didapat setelah operasi bedah bisa saja bersifat sementara. Seiring perkembangan tubuh, otot bisa kembali menjadi kaku dan menyebabkan kontraktur. Operasi bedah mungkin saja harus dilakukan berulang.
Dengan mempertimbangkan kondisi terakhir dan terpai yang sedang dijalankan akhirnya saya memutuskan untuk melakukan operasi bedah yang paling ringan yaitu “release adductor muscles”. Perawatan pasca operasi hanya membutuhkan waktu satu hari dan hanya bersifat pencegahan dari hal-hal yang tidak diharapkan. Walau sebenarnya dokter bedah membolehkan pasien langsung pulang di hari yang sama setelah operasi bedah dilakukan.

Facebook Comments
Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *