RCP Beraksi di Bekasi

RCP beraksi di bekasi

HDI2016-1

Akhirnya website Rumah Cerebral Palsy (RCP) kembali menyapa setelah hampir 10 bulan terhenti. Meskipun tidak ada update tulisan tentang CP selama itu namun ternyata jumlah kunjungan ke website ini tak berkurang jumlahnya. Bahkan dibandingkan sebelumnya cenderung meningkat. Hal ini memberi kami kesimpulan bahwa informasi tentang Cerebral Palsy memang tidak banyak terpublikasi di dunia maya. Tidak adanya update tulisan di website tidak berarti kegiatan Yayasan Rumah Cerebral Palsy di dunia nyata juga ikut terhenti.

Tiga bulan terakhir di setiap tahun RCP memiliki agenda kegiatan. Tanggal 7 oktober diperingati sebagai World Cerebral Palsy Day, tanggal 11 November adalah saat lahirnya Yayasan RCP dan tanggal 3 Desember diperingati sebagai World Disability Day. Pada tahun 2016 ini ketiga agenda tersebut diperingati dalam satu kegiatan yang telah dilakukan oleh RCP pada tanggal 4 Desember 2016. Kegiatan ini berisi diskusi santai dan silaturahim antar keluarga CP. Narasumber utama yang hadir adalah Dr Sarifitri FH Hutagalung Sp,KFR, beliau sehari-hari bertugas di RSIA Hermina Bekasi. Topik pembahasan diskusi kali ini adalah tentang Terapi Anak Cerebral Palsy dan Alat Bantunya. Kegiatan kali ini berlangsung di rumah salah satu pengurus Yayasan RCP (Ibu Yulietta) yang berlokasi di Bekasi.

Menurut rencana awal, diskusi dengan orang tua dari Anak Cerebral Palsy (ACP) dilakukan di ruangan terpisah dari tempat ACP berkumpul dengan maksud agar suasana lebih kondusif. Namun karena beberapa orang tua tidak mungkin meninggalkan ACP-nya akhirnya diputuskan diskusi dilaksanakan tanpa memisahkan orang tua dari ACP. Acara yang berjalan santai namun tetap fokus dipandu oleh Ibu Iis Suminar. Setelah sambutan dari Ketua Yayasan RCP (Pak Agus) dan Pak Arya selaku tuan rumah, diskusi dengan dokter Sarifitri pun dimulai.

hdi2016-3

Dalam paparannya dokter Sarifitri memulai dengan pengertian Cerebral Palsy, penyebab dan pembagian jenis2 CP. Walaupun telah banyak riset yang dikembangkan untuk mengetahui apa saja penyebab CP tetapi tetap saja banyak penyandang CP yang tidak diketahui pasti penyebabnya. Pengetahuan tentang pembagian jenis CP ini perlu diketahui karena berkaitan erat dengan penanganan selanjutnya. Memang setiap orang tua ACP tidak diharuskan untuk mengetahui semua kategori CP. Tetapi yang pasti setiap orang tua ACP harus mengetahui jenis CP yang dialami oleh anaknya sendiri.

Topik selanjutnya adalah tentang penggunaan alat bantu untuk penyandang CP. Alat bantu yang umum digunakan oleh ACP adalah AFO (Angkle Foot Orthotis), kursi roda dan alat bantu pernapasan. AFO atau banyak disebut sepatu AFO adalah alat yang digunakan untuk membuat posisi telapak kaki dengan tungkai kaki ideal. Sebagaimana diketahui jenis CP yang paling banyak dialami adalah jenis spastik (kaku). Salah satu tanda yang paling jelas terlihat adalah posisi kaki yang jinjit. Namun demikian penggunaan AFO tidaklah bertujuan agar telapak kaki ACP menapak tanah. Penggunaan AFO yang berhasil membentuk posisi tumit yang baik akan mempengaruhi perbaikan struktur tubuh bagian atas lainnya. Akan sulit didapatkan seorang ACP bisa duduk dengan baik jika posisi kakinya jinjit. Dengan posisi duduk yang baik maka terapi selanjutnya akan lebih baik seperti terapi untuk tangan dan lainnya.

hdi2016-2

Penggunaan kursi roda untuk ACP harus disesuaikan dengan kondisi setiap ACP. Perbedaan ini tergantung kemampuan masing-masing ACP. Seorang ACP yang kondisi lehernya belum optimal maka kursi rodanya harus mempunyai penahan kepala. ACP yang mempunyai posisi kaki bersilang harus menggunakan penghalang (separator) antara paha kanan dan kiri. Kursi roda yang baik juga dapat membantu membentuk struktur badan ACP secara optimal. Dan tidak lupa juga bahwa kursi roda yang baik mempunyai fitur keselamatan bagi penggunanya.

Masalah yang banyak dialami oleh ACP salahsatunya adalah masalah pernapasan. Hal ini dimungkinkan oleh ketidak-mampuan ACP untuk membuang dahak terutama saat terserang batuk atau pilek. Ditambah banyak ACP yang melewatkan sebagian besar waktunya dengan posisi tidur. Kondisi ini menuntut orang tua ACP untuk mempunyai alat inhalasi. Penggunaan alat inhalasi atau nebulizer seharusnya menjadi keterampilan dasar yang dimiliki oleh orang tua ACP.

hdi2016-4

Orang tua ACP dituntut memberikan terapi yang baik ketika di rumah. Terapi yang dilakukan di pusat layanan kesehatan (rumah sakit atau klinik) biasanya terbatas waktunya. Pemberian makan termasuk hal yang harus diperhatikan oleh orang tua ACP. ACP yang diberi makan dalam posisi tidur terlentang sangat rentan untuk tersedak. Hal ini karena makanan yang seharusnya masuk saluran makanan malah masuk ke saluran pernapasan. Pada ACP yang sensornya kurang baik, jika makanan masuk ke saluran pernapasan tak akan dikeluarkan dengan proses tersedak. Sisa-sisa makanan yang terakumulasi di saluran pernapasan beresiko menjadi tempat berkumpulnya bakteri yang menyebabkan gangguan pernapasan.

Para peserta cukup antusias dengan acara kali ini. Terbukti dari sesi tanya jawab yang seolah tak ada hentinya dilontarkan oleh para orang tua ACP. Antusiasme ini yang terus memberi semangat bagi para pengurus yayasan RCP untuk tetap berusaha secara bekesinambungan mengadakan acara-acara seperti ini. Acara pun diakhiri dengan makan bersama dan foto bersama. Pada tulisan ini Yayasan RCP memberikan penghargaan setinggi-tingginya bagi semua pihak yang telah memberikan andil atas terselenggaranya kegiatan RCP kali ini.
hdi2016-5

Facebook Comments
Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *