Saat Tersulit : M Reno Pratama

Saat Tersulit : M Reno Pratama

m.reno

Kisah ini ditulis oleh Bunda Novi Tiara untuk Rumah Cerebral Palsy. Admin melakukan perbaikan tulisan tanpa merubah makna tulisan yang disampaikan oleh Bunda Novi Tiara. Sebuah kisah yang tampaknya sering kita dengar dialami oleh kalangan masyarakat bawah di negeri ini. Sebuah kisah bagaimana seorang Bunda yang mempunyai anak penyandang Cerebral Palsy harus melalui saat tersulit demi putra tercinta M Reno Pratama. Semoga tulisan seperti ini bisa mendapat perhatian dari berbagai pihak terkait agar pelayanan kesehatan bagi kalangan masyarakat bawah lebih ditingkatkan lagi. Dan bagi pembaca di Rumah Cerebral Palsy lainnya bisa mengambil hikmah terbaik dari kisah ini.

Nama anak saya Muhammad Reno Pratama, penyandang Cerebral Palsy spastik (CP spastik) berumur 2 tahun. Sesaat setelah baru lahir anakku tidak menangis seperti biasanya. Karena lahiran di bidan jadi ga di oksigen dan ga di incubator. Lahir data usia kehamilan 7 bulan 2 minggu dengan berat badan 2,6 kg. Pada saat umur 3 bulan anakku diare dengan dehidrasi akut. Dengan keadaan ekonomi yang minim kami di tolak lima rumah sakit di Bogor dengan alasan kamar penuh. Mungkin karena kami pake jamkesmas. Untungnya ada dokter yang berbaik hati saat kami di RS Hermina. Anakku langsung mendapatkan tindak di UGD di infus, oksigen dan pasang monitor. Keadan anakku udah lemah dengan mata dan ubun-ubun yang cekung. Saat itu kasir memberikan struk pembayaran semua pemasangan alat sebesar 3 juta rupiah, kami tidak punya uang sebanyak itu tapi dokter itu memberi tanda yang saya tidak ketahui. Pada saat ibu saya sampe di kasir, petugas kasir bilang.
”Bu emang ibu karyawaan di sini?”
”bukan, kenapa mba?”
”ini pembayarannya di gratiskan”
Saya terkejut dokter itu menolong anak saya agar anak saya kuat di bawa ke RS yg lain. Beberapa jam kemudian semua alat di lepas dari tubuh anakku. Sepanjang perjalanan saya menagis tiada henti, suami tidak ada karena sedang bekerja di Cikarang sedangkan saya di Bogor. Rasanya sangat sedih melihat anak terbaring yang lemah tanpa suara. Tanpa bergerak dan tidak mau menyusui. Setelah sampai di RSUD Cibinong anakku cuma bisa mendapat tindakan di UGD karena ruang PICU dan anak penuh. Sehari semalam di UGD menghabiskan 3 infusan lebih. Anakku agak sedikit mendingan, dia mulai agak ceria dan mau minum susu. Meski masih agak sedikit mencret tapi anakku langsung dibawa pulang dan dirawat di rumah sampe sembuh. Itu pengalaman yang paling membuat saya takut masih ada lagi hal2 lain karena anakku sering keluar masuk rumah sakit.

Facebook Comments
Share Button

One thought on “Saat Tersulit : M Reno Pratama”

  1. Salut dengan perjuangan bunda dan keluarga yang tak kenal menyerah meski ditolak bbrp RS trs berusaha dan juga utk dokter yg baik hati, andainya saja semua dokter di dunia khususnya indonesia dan yang ada di daerah berhati emas bisa lebih perhatian pada kami masyarakat golongan rendahan pastinya kasus-kasus anak meninggal trlambat ditangani dokter krn keterbatasan ekonomi akan berkurang byk.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *