Sharing Parenting Group Bandung

Sharing Parenting Group Di Bandung
PSG2

Pada tanggal 30 Agustus 2014 yang lalu saya berkesempatan mengikuti acara Sharing Parenting Group di Bandung. Bermula dari informasi yang didapat dari Bu Koeshartati Saptorini atau yang lebih dikenal dengan sebutan Bu Rini di facebook, saya pun tertarik untuk mengikuti acara tersebut. Kebetulan pada akhir pekan itu saya memang sedang mengunjungi kerabat di Bandung. Sharing Parenting Groups ini merupakan kegiatan rutin yang diadakan komunitas orang tua dengan anak berkebutuhan khusus (ABK) di Bandung. Kali ini acara diadakan di Jalan Jawa no 6 mulai pukul 10:00 hingga 13:00. Tema dari kegiatan SPG kali ini adalah “Sibling Pada Keluarga Dengan Anak Berkebutuhan Khusus”.

PSG4

Pembawa acara sekaligus pembicara pada acara ini salah satunya adalah Ibu Caecilia Hari Moerti. Pengalamannya membesarkan dua orang anak yang salah satunya adalah ABK sungguh luar biasa. Bagaimana sebuah peristiwa mengejutkan yang terjadi saat putra bungsunya “protes” terhadap keadaan sang kakak yang berkebutuhan khusus. Hal ini juga yang memaksanya untuk berkonsultasi dengan seorang psikolog. Hasil yang didapatkan sungguh mengejutkan, ternyata sang adik menanggung dampak buruk atas kondisi yang menimpa sang kakak. Padahal saat itu usianya telah menginjak kelas 1 SMP. Dengan berbagai upaya yang dilakukan akhirnya Bu Caecilia berhasil menghilangkan dampak buruk yang dialami putranya.

Pembicara lainnya pada kesempatan tersebut adalah seorang wanita berusia 25 tahun bernama Sania. Sania mempunyai adik penyandang tuna grahita berusia 22 tahun. Pengalamannya hidup bersama seorang adik penyandang tuna grahita juga tak kalah menarik. Hari-hari yang dilalui bersama sang adik memberinya pengalaman dan pelajaran yang sangat berharga dalam memahami kondisi sang adik. Apalagi Sania kuliah di sebuah perguruan tinggi negeri pada jurusan Pendidikan Luar Biasa. Walau menurut pengakuannya pemilihan jurusan tersebut samasekali bukan karena kondisi sang adik. Ada satu peristiwa yang menunjukkan bagaimana sulitnya menghadapi seorang penyandang tuna grahita yang dikisahkannya. Suatu ketika Sania membantu sang adik menggunting kuku. Bagi sang adik kegiatan memotong kuku adalah pekerjaan yang sulit dilakukan. Kondisi motorik halusnya tidak begitu baik untuk sebuah pekerjaan memotong kuku. Ketika itu Sania memotong kuku terlalu pendek sehingga mengakibatkan jari sang adik terasa sakit. Sang adik pun marah karena hal ini. Jika hanya sebentar saja mungkin bukan merupakan suatu masalah bagi Sania namun kemarahan sang adik bisa berlangsung berminggu-minggu hanya karena hal sesepele itu.

PSG3

Satu pembicara terakhir diacara tersebut tentu saja Bu Koeshartati Saptorini. Seorang ibu dengan tiga putra. Hal yang istimewa adalah dari ketiga putranya terdapat dua orang penyandang Cerebral Palsy. Pengalaman saya mengasuh seorang anak penyandang cerebral palsy terasa begitu berat. Tak terbayang jika saya menghadapai keadaan seperti Bu rini yang mempunyai sekaligus dua anak penyandang cerebral palsy. Dalam pembicaraannya Bu Rini banyak memberikan masukan yang sangat berharga bagi orang tua yang mempunyai ABK dan anak normal secara bersamaan. Seorang ABK sewajarnya mendapatkan perhatian yang istimewa dibandingkan dengan anak dengan keadaan normal. Hanya saja ketika seorang ABK mempunyai saudara (sibling) yang normal maka perhatian yang istimewa ternyata bukan hanya hak ABK. Penanganan yang salah dalam mengasuh anak dengan dua kondisi yang bertolak belakang bisa menimbulkan masalah yang serius dikemudian hari. ( bersambung )

Facebook Comments
Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *