Sibling Moment

SIBLING MOMENT

SIBLING1

Hari Ini Saya (admin) mengantar Gilang mendatangi Jakarta School Of Prosthetic and Orthotics (JSPO). Kedatangan kali ini bertujuan melakukan pengukuran dan pencetakan kaki untuk membuat AFO. Kami berangkat dari rumah bersama pengasuh dan tak lupa mengajak adiknya Gilang (Akbar). Akbar memang cukup sering diajak mengantar Gilang ke berbagai tempat. Mengikuti berbagai acara yang berkaitan dengan Cerebral Palsy. Tak jarang Akbar turut mengikuti ke tempat pembuatan alat2 pendukung untuk Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) seperti kali ini. Akbar juga mulai terbiasa bertemu dengan ABK lain yang kondisinya seperti Gilang. Saya sengaja melakukan ini (mengajak Akbar) dengan harapan kedepannya Akbar mempunyai sikap mental yang baik menghadapi keadaan orang-orang dengan kebutuhan khusus. Mempunyai empati dan mempersiapkan dirinya yang dalam kondisi bersaudara (sibling) dengan penyandang Cerebral Palsy.

Menurut banyak sumber yang pernah saya baca, permasalahan mempunyai Anak Cerebral Palsy (ACP) bukan hanya melulu sekedar pada diri ACP. Hubungan dengan saudara kandung( sibling) ACP juga seringkali menjadi permasalahan yang perlu perhatian. Seperti yang saya alami siang ini sungguh membuat hati terenyuh melihat perlakuan Akbar terhadap Gilang. Gilang dengan segala kondisinya bisa membedakan kedekatan antara keluarga dan orang lain (selain keluarga). Gilang akan lebih nyaman jika mengetahui dirinya dikelilingi orang-orang yang dikenalnya. Salahsatu kebiasaan Gilang adalah selalu memanggil semua anggota keluarganya. “Mamah” tentu saja untuk memanggil Ibunya. “Babah” untuk memanggil Ayah. “Uwa” untuk memanggil pengasuhnya dan “Abay” untuk memanggil Akbar. Jika salah seorang dari kami dipanggil maka kami biasa menyahut panggilan Gilang. Begitupun Akbar, jika dipanggil akan segera menyahut. Namun ini hanya terjadi dalam satu atau dua kali panggilan. Dalam panggilan selanjutnya Akbar akan merasa bosan dan tak akan menghiraukan panggilan Gilang. Ini terjadi karena jika panggilannya dijawab maka Gilang akan terus saja memanggil dengan kata yang sama. Hal ini membuat Akbar malas untuk mejawab panggilan dari Gilang. Moment sibling seperti ini terjadi hampir setiap hari antara Gilang dan Akbar.

Namun hari ini kejadiannya berbeda dari biasanya. Saat dilakukan pencetakan kaki, Gilang menangis karena merasa tidak nyaman ketika kakinya harus di-gips. Ketika menunggu cetakan gips kering posisi kaki Gilang dipertahankan pada posisi ideal agar menciptakan cetakan yang bagus. Saat itulah Gilang terus menangis dan memanggil saya, pengasuh dan Akbar. Di usianya yang menjelang empat tahun Akbar ternyata cukup menyadari bahwa Gilang butuh ditenangkan. Akbar berusaha membuat Gilang tenang dengan terus memanggil nama Gilang dan mengusap-usap tangan Gilang. Melihat itu hati saya terenyuh dan sekaligus bangga dengan sikap Akbar. Akbar seolah menyadari bahwa di dalam ruangan tersebut yang bisa menenangkan Gilang salah satunya adalah dirinya sendiri. Walaupun di rumah seringkali hal yang sebaliknya terjadi. Tak jarang Akbar sering membuat Gilang menangis dengan ulah usilnya. Diam diam saya tak henti berdo’a semoga kelak Akbar dapat menjaga Gilang dengan sebaik-baiknya manakala Saya dan Ibunya telah tiada. Sibling moment seperti ini mungkin tampak biasa bagi keluarga tanpa ABK. Namun keluarga dengan ABK akan membuat moment seperti ini sebagai moment yang tak terlupakan.

Facebook Comments
Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *