Sibling Pada Keluarga Dengan ABK

Sibling pada keluarga dengan ABK ( Anak Berkebutuhan Khusus )

PSG1

Sudah menjadi fitrah bagi setiap orang tua yang dikaruniai anak pasti akan berusaha untuk memberikan pengasuhan terbaik bagi anaknya. Segala daya dan upaya akan dilakukan sejak anak bahkan masih didalam kandungan hingga dewasa. Tak terkecuali bagi orang tua dari Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Bagaimana pun kondisi anak tentunya mereka juga ingin memberikan pengasuhan terbaik. Apalagi jika sang anak ternyata kondisinya mempunyai keterbatasan baik secara fisik atau psikis. Wajar rasanya jika orang tua dari ABK akan memberikan perhatian yang lebih istimewa kepada ABK-nya. Keterbatasan ABK mau tidak mau menuntut perhatian orang tua ABK lebih besar daripada orang tua dari anak yang normal. Kondisi akan lebih sulit manakala orang tua ABK juga mempunyai anak lainnya (sibling) yang normal. Membesarkan anak dengan dua kondisi yang berbeda ini ternyata bisa menimbulkan banyak masalah.

Dari mengikuti Sharing Parenting Group di Bandung beberapa waktu yang lalu saya ingin berbagi catatan tentang acara tersebut. Catatan ini terutama bersumber dari Ibu Koeshartati Saptorini (Bu Rini) yang menjadi salahsatu pembicara. Karena ini hanyalah merupakan sebuah catatan dan bukan merupakan tulisan dari Bu Rini langsung tentunya bisa jadi akan terdapat perbedaan persepsi saya sebagai pendengar dengan Bu Rini sebagai narasumber. Namun demikian jika dalam tulisan ini ada hal yang perlu didiskusikan maka Bu Rini dengan senang hati akan bisa membantu. Seperti yang pernah saya tulis pada postingan sebelumnya tentang Bu Rini yang mempunyai dua anak penyandang Cerebral Palsy dan seorang anak lainnya normal. Dari pengalamannya mengasuh dua ABK bersama seorang anak normal lainnya dapat ditemukan beberapa hal yang menjadi tantangan orang tua dalam menghadapi kondisi serupa.

sibling

TANTANGAN

  • Sibling sering terabaikan baik dalam hal PERHATIAN dan KESEJAHTERAAN
  • Orang tua dengan ABK biasanya dituntut memberikan penangan berupa terapi. Terapi dilakukan dengan frekuensi berbeda bergantung dari berat-ringannya kondisi ABK. Semakin berat kondisi ABK maka semakin sering terapi harus dilakukan. Saat ini rata-rata biaya untuk melakukan terapi baik berupa fisioterapi, terapi wicara dan lain-lain begitu mahal. Otomatis hal ini memaksa orang tua untuk memberikan waktu dan biaya lebih banyak bagi ABK dibandingkan dengan sibling.

  • Sibling bisa jadi lebih berat bebannya daripada orang tua
  • Posisi sibling rentan menjadi pihak yang paling lemah didalam sebuah keluarga dengan ABK. Keluarga dengan ABK mempunyai tingkat stress yang tinggi. Orang tua bisa saja melampiaskan stress dengan memarahi sibling yang tak mungkin terjadi sebaliknya (sibling memarahi orang tua).

  • Sibling dapat tumbuh menjadi pribadi pendendam, pemalu, penakut, sedih, merasa bersalah.
  • Sibling akan merasa menjadi manusia tidak berharga.
  • Sibling merasa jauh dari orang tua
  • Hal seperti ini bisa terjadi manakala orang tua sering meninggalkannya misalnya mengantar ABK berobat atau bahkan dirawat di rumah sakit. Pada umumnya ABk lebih rentan sakit yang memerlukan rumah sakit.

  • Sibling sering merasa kesepian terutama jika tidak mempunyai saudara normal lainnya.
  • Sibling merasa takut akan menambah beban orang tua.
  • Sibling seringkali kesulitan bercerita kepada teman sesamanya, dia berpikir temannya berbeda karena tak mempunyai saudara ABK.
  • Sibling merasa ditinggalkan karena urusan saudara ABK selalu lebih penting daripada dirinya.
  • Sibling merasa marah akibat peraturan yang berbeda.
  • Perbedaan pola asuh bagi ABK dan sibling pasti akan menimbulkan kecemburuan. Contoh sederhana adalah manakala ABK selalu disuapin ketika makan sementara sibling dituntut untuk makan dengan tangannya sendiri.

  • Sibling sering merasa malu dengan kelakuan saudara ABK.
  • Perasaan ini bisa muncul manakala berada bersama ditempat umum. Perilaku ABK yang seringkali menarik perhatian justru akan membuat sibling merasa malu.

  • Sibling tumbuh dengan ketakutan.
  • Dalam hal ini merasa takut akan keselamatan fisik dirinya manakal sering ditinggal orang tua.

  • Sibling sering merasa sedih yang tidak jelas secara tiba-tiba.
  • Sibling pada kenyataannya mempunyai tanggung jawab lebih besar daripada teman sebayanya.
  • Kondisi ini harus disadari oleh orang tua. Misalnya jangan menuntut prestasi akademik harus sama dengan temannya yang tidak mempunyai saudara ABK. Menuntut hasil yang sama dari dua kondisi yang berbeda ini jelas merupakan sebuah ketidak-adilan.

  • Sibling terkadang meminta perhatian lebih dari orang tua.
  • Perilaku yang ditunjukkan dengan cara marah, pura-pura sakit bahkan bisa dengan menunjukkan perilaku negatif.

  • Sibling didalam pergaulannya sering merasa tertekan sehingga sulit bersosialisasi.
  • Sibling juga merasa dutuntut untuk menjadi sempurna bagi saudara ABK-nya terutama menyangkut masa depannya.
  • Sibling juga dapat tumbuh menjadi pribadi yang kuat, patuh, penyayang dan berempati tinggi tentunya dengan cara pengasuhan yang tepat dari orang tuanya.

APA YANG HARUS DILAKUKAN

  • Segera sadari bahwa sibling adalah anak-anak juga.
  • Yakinkan bahwa tanggung jawab terbesar dalam mengasuh saudara ABK-nya adalah orang tua dan bukan dirinya.

  • Meminta bantuan psikolog manakala menemui kendala dalam mengasuh sibling.
  • Temukan kekuatan pribadi dengan cara meminta dukungan sosial.
  • Dukungan yang diharapkan tentu saja dimulai dari keluarga sendiri kemudian kerabat lainnya.

  • Perlakukan sibling dan ABK secara istimewa.
  • Tak ada perbedaan diantara keduanya dalam hal perhatian dan kasih sayang.

  • Beri kesempatan beberapa waktu kepada sibling untuk benar-benar lepas dari saudara ABk-nya.
  • Berikanlah pengakuan akan peran sibling dalam membantu saudaranya.
  • Namun hal ini bukan berarti menambah beban mereka.

  • Luangkan waktu bersama sibling.
  • Berempatilah dengan apa yang dirasakan oleh sibling.
  • Saat sibling menginjak usia remaja berilah penjelasan tentang apa yang dialami oleh saudara ABK-nya.
  • Beri gambaran tentang ketidak-adilan yang dialami saudara ABK diantara masyarakat.
Facebook Comments
Share Button

2 thoughts on “Sibling Pada Keluarga Dengan ABK”

  1. learning baru yang perlu dipelajari juga bagi keluarga dengan abk. Harus saling mengerti dan memberikan pengertian terhadap anggota keluarganya. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *