Subluksasi dan Dislokasi Pada Cerebral Palsy

Subluksasi dan dislokasi pada cerebral palsy
subluksasi

Sebulan yang lalu tepatnya tanggal 5 Juni 2015 di grup Facebook Rumah Cerebral Palsy ada thread mengenai subluksasi dan dislokasi pada cerebral palsy. Cerita Bunda Winda Azzia tentang putrinya yang kemungkinan mengalami subluksasi pada panggul ( hip subluksasi ) juga hip dislokasi. Admin sengaja meng-copy beberapa tulisannya di web ini mengingat manfaat yang besar dari thread tersebut. Hal ini juga dilakukan untuk mempermudah anggota Rumah Cerebral Palsy atau siapapun yang membutuhkan dalam mencari file-nya. Karena cukup sulit untuk mencari suatu bahasan di grup facebook pada tulisan yang telah lama. Pada tulisan ini admin akan menampilkan komentar2 dari dokter Aryadi Kurniawan yang telah bersedia berbagi wawasan tentang subluksasi dan dislokasi pada cerebral palsy.

  • Winda Azzia
  • Bunda” smua tolong share jika ada yang pernah mengalami hal yang sama ini y.zia abis radiologi tulang pelvisnya(panggul),dan dokter rehabnya merujuk zia ke dokter ortopedic,diagnosanya dokter rehab,tulang pahanya zia keduanya keluar dan ini yg menyebabkan zia jalannya ngegang,jadi ada kemungkinan bisa dioperasi.jujur saya bingung banget,saya takut dengan keadaan zia saat ini,krn zia baru banget bisa berjalan.saya takut bagaimana bila memang harus operasi bagaimana keadaan zianya pasca operasi nanti,krn ini terlalu rumit untuk saya dan suami.mohon masukkannya jika ada yang memahami ini.trimakasih.

  • Aryadi Kurniawan
  1. Terima kasih atas mentionnya bu Maya Taurusia. Hip (panggul) problem memang selalu menjadi tantangan pada anak dengan cerebral palsy. Anak bisa kehilangan kemampuan berjalannya bila panggulnya dislokasi (lepas). Panggul anak CP bergeser karena adanya ketidak seimbangan otot dan syaraf (neuromuscular imbalance). Otot di sisi dalam pangkal paha (adductor) lebih spastik dan dominan dibanding otot di sisi luar paha sehingga sedikit demi sedikit mengakibatkan bonggol kepala sendi bergeser ke luar. Hal ini bisa terlihat dari foto rontgen pelvis dimana sekitar 40 persen kepala sendi berada di luar coverage/ cakupan mangkuk sendi. Kondisi ini dinamakan subluksasi, yaitu sebagian bonggol kepala sendi tidak memiliki coverage mangkuk sendi. Apabila dibiarkan dapat berkembang menjadi dislokasi yaitu keseluruhan bonggol kepala sendi sudah berada di luar mangkuk sendi. Pada kondisi dislokasi ini biasanya anak menjadi sulit berjalan dan bahkan duduk seimbang pun sulit
  2. Karena problem dasarnya adalah ketidak seimbangan otot dan syaraf maka solusinya adalah dengan menyeimbangkan otot dan syaraf tadi. Otot yg spastic dan dominan ”dilemahkan” sehingga skor yang tadinya 5 : 2 menjadi 3 : 2. Caranya bisa dengan suntik botox atau operasi memanjangkan otot yg dominan tadi. Setelah botox atau operasi soft tissue release, dipasang gips spica dengan posisi panggul membuka (mengangkang) sehingga otot adductor sembuh dalam posisi lebih psnjang. Botox lebih aman dan sederhana tapi kemampuan koreksinya lebih kecil dibandingkan operasi. Operasi lebih potent dan powerful tapi tentunya harus dijalani dalam bius umum. In general, migration index (persentase bonggol kepala sendi yg berada di luar cakupan mangkuk sendi) lebih dari 25%, lebih baik dilakukan operasi. Monggo silahkan dibuka link ini dari AAOS .(American Academy Orthopaedic Surgeon)
  3. Botox perlu dilakukan setiap 6-9 bulan sekali. Apakah setelah botox atau operasi, panggul masih bisa subluksasi atau bahkan dislokasi? Jawabannya ya masih bisa karena pasien masih anak anak, otot yang tadi sudah dilemahkan bisa tumbuh dan berkembang menjadi kuat dan dominan kembali. Pada negara maju dilakukan hip screening minimal sekali setahun untuk evaluasi hip migration pada anak dengan cerebral palsy.
  4. Pencegahan dilakukan dengan Postural Management Programme. Apabila misalnya anak membutuhkan operasi dan pada akhirnya dilakukan operasi, pasca operasi pun dilakukan Postural management program tersebut untuk memperkecil.kemungkinan rekurensi (spastic dominan kembali). Program tersebut sudah selayaknya dilakukan oleh medis/ therapist dan sebaiknya under supervision dokter dan dilakukan evaluasi 3-6 bulan sekali. Keberhasilan Postural Management program bisa dilihat di.link di bawah ini. Mohon maaf saya tidak bisa membahas program (atau posisi) karena yang melakukan harus memiliki latar belakang therapist dan sebenarnya program tersebut seharusnya semua therapist sudah menguasai.
  5. Di Australia stretching atau postural management system selalu disertai dengan suntikan botox. Dengan suntikan botox otot yang spastic menjadi kendur dan lemas sehingga memudahkan program fisiotherapy. Anak juga lebih mudah diajak fisiotherapy karena lebih nyaman dan comfortable. Di Australia botox dicover pemerintah sehingga banyak orang tua minta anak CP nya dibotox karena harga cukup mahal.
  6. Saran saya untuk semua ayah-bunda yang memiliki anak dengan cerebral palsy….untuk mendapatkan outcome yang maksimal dibutuhkan 2 syarat. Yang pertama adalah orang tua yang actively-involved yaitu orang tua yang ikut serta aktif dalam.tatalaksana cerebral palsy anaknya. Tidak bisa orang tua menyerahkan kepada therapist atau dokternya saja. Syarat yang kedua adalah Well-informed, artinya orang tua harus aktif mencari tahu apa yang terbaik untuk kondisi kondisi yang dihadapi anak dengan CP. Bisa mencari tahu di internet tetapi harus selektif, tidak semua informasi dari internet adalah valid sehingga perlu dipilah pilah. Bagaimana cara memilahnya? Pada saat searching selalu tambahkan keyword ”children hospital” sehingga informasi yang ayah bunda dapatkan berasal dari sebuah institusi yang valid dan accountable (Rumah sakit Anak – Children Hospital). Sebagai permulaan ayah bunda bisa buka google lalu.masukan keyword ”Parental.Guideline Cerebral.Palsy Children Hospital.Melbourne”
  7. Kalau boleh saya simpulkan, pada ACP jangan sampai terjadi hip dislokasi. Hip subluksasi adalah lampu kuning sedangkan hip dislokasi adalah lampu merah. Pada hip dislokasi ACP akan kehilangan sebagian kemampuan mobilisasinya. Lini pertama pencegahan dengan Postural Management Programme, biasanya disertai botox. Bila lini pertama gagal dilakukan operasi soft tissue release. Bila operasi soft tissue release gagal dilakukan operasi bony prosedur. Yang dimaksud gagal di sini bukan berarti Postural Managemen atau operasinya salah tetapi karena otot ACP berkembang menjadi.spastic dominan kembali seiring bertambahnya usia dan otot menjadi lebih besar.
  8. Apabila sudah terjadi dislokasi maka harus diusahakan untuk dikembalikan ke dalam mangkuk sendinya agar dapat meraih kembali kemampuan.mobilisasinya. Pada anak yang tidak bisa berjalan, dislokasi tetap harus dipulihkan karena ACP dengan dislokasi.panggul untuk duduk.pun sulit. ACP yang terus menerus berbaring rentan terkena pneumonia (radang paru) karena air liur yang biasanya drooling (ngeces keluar) ini tertarik gravitasi masuk ke.paru.
    Facebook Comments
    Share Button

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *