Tatalaksana untuk gangguan motorik

Tatalaksana untuk gangguan motorik
Cerebral Palsy #3b
Evaluasi awal oleh dokter spesialis orthopedi dan spesialis rehabilitasi medik penting dalam membuat program latihan pada pasien CP. Fisioterapis anak memiliki peran penting pada manajemen tatalaksana gangguan motorik, terkadang juga diperlukan okupasi terapis untuk menjalankan program terapi yang direncanakan. Orang tua perlu mendiskusikan pilihan2 tatalaksana yg tersedia dengan dokter, namun perlu diketahui tidak semua pilihan cocok untuk anak anda.

  1. Orthosis (sering disebut ‘brace’) dipakai terutama pada tungkai bawah oleh banyak anak pada masa2 pertumbuhannya. Biasanya dibuat khusus dan individual, terbuat dari berbagai macam jenis material. Beberapa desain orthosis bisa dipakai didalam sepatu
  2. Bidai/splint (kadang disebut orthosis juga) biasanya dibuat oleh okupasi terapis untuk mempertahankan ruang gerak sendi pada tungkai atas dan tangan. Tujuannya untuk meningkatkan fungsi tungkai atas dan tangan. Bahan bisa sama dengan orthosis lainnya.
  3. Botulinum Toxin A (Botox) merupakan obat injeksi yang digunakan untuk mengatasi kekakuan otot, terutama pada otot paha dan betis, namun juga bisa digunakan pada otot2 lainnya. Penggunaan ‘botox’ terbukti dalam mengurangi spastisitas dan membantu pertumbuhan otot lebih normal. Penggunaan ‘botox’ dikatakan juga membantu memaksimalkan program latihan yang dilakukan dan dapat menunda waktu operasi. Pada beberapa anak injeksi ‘botox’ memerlukan anestesi lokal namun pada lainnya membutuhkan anastesi umum demi kenyamanan anak, setelah injeksi biasanya diikuti oleh periode gips atau orthosis. Kekurangan ‘botox’ adalah sifatnya yg sementara dan harganya yg cukup mahal.
  4. Obat-obatan, beberapa obat digunakan untuk mengatasi spastisitas atau distonia. Umumnya berupa obat oral/minum namun ada juga yg menggunakan pompa yg ditanamkan dibawah kulit. Penggunaan obat2an seperti ini bisa dikonsultasikan dengan dokter anda.
  5. OPERASI
    Selektif Dorsal Rhizotomy, merupakan operasi besar pada saraf disekitar tulang belakang. Tujuan operasi ini untuk mengurangi spastisitas, umumnya untuk anak dengan spastik diplegik, dilakukan oleh dokter spesialis bedah saraf.
  6. Tatalaksana untuk gangguan motorik

  7. Operasi orthopedi, terutama dilakukan pada tungkai bawah namun tidak menutup kemungkinan juga untuk tungkai atas bila ditemukan gangguan. Beberapa anak membutuhkan operasi untuk skoliosis, terutama pada anak dengan CP yg berat. Fisioterapi paska operasi merupakan bagian yg tak terpisahkan dari manajemen orthopedi pada pasien CP.
  • a. Panggul. Screening panggul merupakan bagian yg penting pada pasien CP, terutama pada anak yang tidak bisa berjalan. Dikatakan bahwa anak dengan bilateral CP harus sudah melakukan rontgen panggul sebelum umur 18 bulan dan diulang tiap 6 bulan untuk mendeteksi pergeseran panggul. Apabila bonggol dari tulang paha sudah lebih dari 40% diluar mangkuknya, merupakan indikasi untuk dilakukan operasi. Penanganan yg dini memiliki hasil yg lebih baik secara jangka panjang, terutama menuju pertumbuhan panggul yang normal. Penelitian menunjukkan 90% panggul yg keluar/dislokasi akan nyeri dan tidak ada terapi yg bisa memperbaikinya selain operasi.

  • b. Lutut. Operasi pemanjangan tendon dan perubahan bentuk tulang terbukti membantu mendapatkan lutut yg lurus sehingga bisa didapatkan pola berjalan yg lebih baik.
  • c. Pergelangan kaki dan kaki. Daerah ini merupakan tempat dimana operasi orthopedi umumnya dilakukan. Operasi tulang dan tendon bisa memperbaiki bentuk kaki dan selanjutnya memperbaiki pola berjalan pada anak.

    Sebagian besar anak dengan diplegic akan membutuhkan operasi orthopedi pada beberapa regio (panggul, lutut, kaki, dll). Operasi akan banyak membantu terutama untuk anak yg berjalan mandiri atau dengan bantuan kruk/tongkat. Waktu terbaik untuk dilakukan intervensi pembedahan antara 4-10 tahun, namun pada beberapa kasus bisa juga berguna untuk anak yg lebih muda atau tua.
    Target operasi orthopedi adalah untuk mencegah kelainan bentuk dan juga memperbaiki bentuk dan efisiensi pola berjalan. Kesuksesan operasi ditentukan oleh evaluasi lengkap dari gangguan berjalan anak.

  • d. Operasi untuk tungkai atas meliputi transfer tendon dan pemanjangan tendon. Terkadang bisa memperbaiki penampilan dan fungsi.

Bersambung…..

Narasumber :

Nama : Dr. Patar Oppusunggu Sp.OT
Pekerjaan : Dokter Spesialis Orthopaedi dan Traumatologi di RSUD Kab Tangerang Banten.
Pendidikan :
– FKUI-RSUPN Cipto Mangunkusumo
– Departemen Orthopaedi dan Traumatologi FKUI RSUPN Cipto Mangunkusumo
– Fellowship Pediatric Orthopedic, Mumbai. India

Facebook Comments
Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *