Tentang Sukoco Berpulang

Sukoco

sukoco

Pelatihan Program Home Therapy untuk orang tua dari anak dengan kondisi cerebral palsy (ACP) baru dimulai lagi. Sedih juga tidak bisa ikut partisipasi langsung seperti gelombang pertama.

Bersama Yasin telah kutelusuri jarak yg tak terukur mendatangi berbagai tempat terapi. Di tempat-tempat itu tentu saja kutemui banyak anak dengan berbagai kondisi dan berbagai jenis sindroma. Sebagian besar datang bersama ibunya atau ibu-bapaknya, atau nenek-kakeknya, atau kakak dan adiknya. Sebagian kecil hanya dengan pengasuhnya. Yasin sendiri kadang diantar pasukan lengkap, mulai kakak, Bude, sepupu.

Semua kami di posisi yg sama, merasakan yg sama. Mengusahakan yg terbaik dan tak lagi peduli pada lelah dan biaya. Proses panjang yg membutuhkan resiliensi dan persistensi tanpa hasil akhir yg bisa diprediksi dengan mutlak. Cuma harapan yg selalu bersemi bahwa anak-anak kami bisa tumbuh-kembang optimal. Dinamis kalau istilah bapakku. Selalu yakin dan tawakkal bahwa akan selalu ada rizkiNya untuk menjalani proses panjang itu.

Namun di acara pelatihan inilah aku mendapat pelajaran yg lebih dalam lagi. Bertemu dengan para orang tua yg bahkan memilki lebih banyak lagi masalah dan keterbatasan. Para ibu tunggal atau keluarga yg masuk kategori pra-sejahtera, sebagian besar tanpa penghasilan tetap. Cuma dua hal yg mereka punya tanpa batas, yaitu semangat dan harapan.
Hampir semua peserta adalah pasien yg terdaftar di dua Rumah Sakit milik pemerintah terbesar di Jakarta. Adalah cerita biasa kalau mereka datang ke Rumah Sakit itu utk antri berjam-jam namun akhirnya harus pulang tanpa mendapat jatah waktu terapi hari itu.

Maka acara pelatihan ini buat mereka adalah satu hal besar yg membahagiakan. Mereka rela datang dari berbagai pelosok Jakarta ke daerah Cilandak untuk berpartisipasi dalam program ini, sambil menggendong anak mereka. Sebagian naik motor, sebagian besar naik kendaraan umum. Maka inisiatif panitia juga untuk meringankan beban mereka dengan mengganti uang transpor peserta, menyediakan snack dan makan siang.

Tiap pertemuan selama setahun kemarin menjadi ajang curhat dan ngobrol seru sesama mereka, sambil menyimak instruksi pak Syakib dan mengamati para mahasiswa calon terapis menangani anak mereka. Santai saja para ibu memberi minum anaknya lewat NGT sambil tetap ngerumpi, berlanjut dengan membersihkan bekas muntah atau menyedot lendir. Ferdian, cowok ganteng imut usia 10 tahun disuapi ibunya makan lontong sambil berlepotan. Ya benar-benar imut dengan tubuhnya yg sebesar boneka, dan ekspresinya yg cuma bisa meringis saat kaki mungilnya dengan bentuk tulang yg telah berubah di-stretching oleh terapis.

Belum lama berselang aku dapat kabar tentang wafatnya salah satu peserta yaitu Kezia, gadis kecil berbadan gemuk dengan selang NGT yg selalu menempel di hidungnya. Pagi ini kubaca kabar dari sahabatku mbak Maya, penggagas pelatihan ini, ada lagi seorang peserta yg telah menyelesaikan perjuangannya di dunia ini, bergabung bersama para malaikat kecil di langit. Sukoco namanya. Aku lupa usianya, mungkin sekitar 5 tahun. Dengan kondisi hidrosefalus namun telah beberapa kali menjalani operasi shunting. Ibunya selalu ceria saat bertemu, bersalaman atau memelukku dan teman2 yg lain dg senyum gembira. Menggendong anaknya dengan kain dari rumahnya di daerah Cakung, sambung-sambung naik 3 macam kendaraan umum. Saat ditangani oleh terapis memang tak banyak responnya, hanya matanya yg bergerak-gerak kian kemari.

Hatiku terasa sesak dan air mataku menetes mendengar kabar ini. Karena aku telah telanjur sayang, karena aku tahu banyak Sukoco-Sukoco lain yg bernasib serupa. Sebagai orang tua dari ACP dengan berbagai komplikasi kondisi maka kami semua sadar sepenuhnya bahwa cuma Allah sekuat kuat tempat bergantung. Bahwa apa yg Ia titipkan pada kami adalah permata yg kami tak tahu sampai kapan kami diberi kesempatan utk menjaganya.

Kami tak butuh simpati atau rasa kasihan. Cuma penerimaan terhadap anak anak kami bahwa mereka adalah makhluk Allah yg sama sempurnanya dengan anak-anak lain. Perbedaannya hanya pada kompleksitas kondisi yg membutuhkan perawatan dan penanganan khusus.
Satu hal yg juga kami tak suka adalah mendengar kalimat, Tuhan hanya memberi anak spesial pada orang tua spesial. Kami bukan orang tua istimewa, kami juga struggling, kami sering menangis lelah, sedih, kecewa atau takut, atau bertengkar karena perbedaan pendapat. Tapi kami telah belajar untuk berjuang menyingkirkan, melompati bahkan menerjang rintangan, atau mengabaikan perasaan kami demi anak-anak kami. Anak-anak kamilah yg dikirim Allah utk menjadikan kami orang tua yg berbeda dari orang tua lain. Kami adalah orang tua yg menikmati hari demi hari kebersamaan yg begitu berharga. Kami adalah orang tua yg dipaksa untuk selalu tak lupa bersyukur.
Jangan juga ucapkan di depan kami bahwa anda merasa beruntung karena tidak harus menjalani apa yg kami jalani, bahwa anda merasa tak kan kuat di posisi kami. Karena Allah telah melengkapi kita semua dengan kemampuan utk survive dan bangkit dari kelemahan atau keterpurukan apapun selama kita bersandar padaNya.

Untuk teman-teman panitia Pelatihan, please keep up your spirit. Semoga jadi pemberat mizan hasanah, timbangan kebaikan di hari akhir. Untuk Bapak dan Ibu terapis serta adik-adikku calon terapis, tetaplah bekerja dengan hati yg penuh cinta, karena tak akan ada kebaikan yg sia-sia di hadapan Sang Pencipta.

Dian Utami, Abu Dhabi, penghujung bulan Mei 2015

Facebook Comments
Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *