Terapi Wicara

TERAPI WICARA

10653363_10203949567557106_7927248877308040186_n

Terapi wicara bertujuan untuk meningkatkan, dan memungkinkan, anak cerebral palsy untuk secara efektif mengkomunikasikan pikiran dan ide mereka kepada dunia. Keterampilan komunikasi adalah aspek yang sangat penting dalam berinteraksi dengan orang lain, mengembangkan hubungan, belajar, dan bekerja. Terapi wicara meningkatkan potensi anak untuk kemandirian dan berdampak positif pada kualitas hidup mereka.

Terapi wicara adalah proses dimana seorang terapis menangani berbagai gangguan komunikasi, bicara dan bahasa. Terapis meningkatkan keterampilan motorik oral anak dan ketajaman komunikasi dengan menggunakan latihan yang melatih otak mengucapkan – serta memahami dan menafsirkan – kata tunggal, suara, angka dan gerak tubuh. Selain itu, terapis meningkatkan fungsi mulut, otot rahang dan tenggorokan (fungsi motorik oral) yang dapat mengganggu tidak hanya bicara, tapi juga bernapas dan menelan – dua hal yang dapat menimbulkan bahaya yang signifikan untuk anak.
Cerebral palsy sering mempengaruhi pusat-pusat bahasa dari otak yang mengontrol bicara. Dalam kasus ringan cerebral palsy, anak mungkin mengalami kesulitan menggunakan kata-kata yang benar, tetapi dalam kasus yang lebih berat, kemampuan seorang anak untuk mengekspresikan secara verbal dirinya sendiri mungkin terhambat secara serius. Dalam keadaan ini, terapis akan membantu dalam menemukan cara-cara di mana anak dapat mulai berkomunikasi melalui ques (mengedip atau mengangkat jari), bahasa isyarat, atau dengan bantuan perangkat komunikasi augmentatif (DynaVox atau komputer).

Terapi wicara menyasar kondisi seperti:

  1. Aphasia – hilangnya sebagian atau seluruh ekspresi lisan
  2. Dyspraxia – mengerti bahasa, tetapi tidak mampu secara konsisten
  3. dan benar mengucapkan kata-kata karena koordinasi otot terganggu
  4. Dysprosody – gangguan dalam waktu berbicara dan ketukan irama
  5. Dysarthria – tampilan otot wajah abnormal
  6. Gagap, gangguan kelancaran – gangguan kronis atau pengulangan dalam bicara
  7. Disfagia – menyebabkan kesulitan menelan, tersedak, masalah pernapasan
  8. Gangguan artikulasi – menambahkan atau menghilangkan suara yang diperlukan
  9. Prosodi – intonasi dan gangguan irama
  10. Gangguan fonasi – masalah dengan ketepatan nada
  11. Resonance disorder – masalah pada saluran vokal/suara

Selain itu, terapis juga dituntut mengembangkan tidak hanya tindakan berbicara, tetapi kemampuan untuk sepenuhnya memahami bahasa.

Aspek yang diperhatikan oleh terapis antara lain:

  • Formasi kata
  • Pengucapan
  • Kefasihan
  • Mendengarkan
  • Pengembangan kosakata dan bahasa
  • Pemahaman kata dan makna
  • Hubungan kata dan objek
  • Koordinasi dan kekuatan otot mulut dalam berbicara

Pada anak-anak yang hilang kemampuan bicara, terapis akan menentukan cara lain selain dengan berbicara bagi anak untuk mengekspresikan diri mereka dan berinteraksi dengan orang lain. Untuk mencapai tujuan itu, terapis mengandalkan isyarat fisik, gerakan, cara konvensional, dan teknologi untuk membantu anak mengatasi keterbatasannya.
Beberapa cara ini meliputi: Gestur (gerak tubuh), Simbol, Tanda, Papan gambar, Alat bantu berbasis komputer, Pengolah suara (syntetizer).

Anak-anak dengan cerebral palsy sering mengalami disfagia tingkat tinggi, atau kesulitan menelan. Disfagia disebabkan oleh bawaan, neurologis atau kelainan fisiologis, bisa terjadi karena penghalang anatomis atau penyimpangan dalam tenggorokan atau kerongkongan anak.
(bersambung…)

Facebook Comments
Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *