Ventrikulomegali, Yasin dan Ummi Dian

yasin

Sumber : Majalah AULIA
AKU INGIN ANAKKU MENJADI MUJAHID

Kisah Ventrikulomegali, Yasin dan Ummi Dian. Dokter, itu menuliskan diagnosisnya mengenai anakku, entah mengapa, tanpa merasa perlu menjelaskannya kepadaku atau suamiku. Cerebral Palsy. Apa yang kutakutkan salama ini seperti dikonfirmasi oleh dokter tersebut. Dua tahun tiga bulan usia Muhammad Yasin saat itu, Namun telah amat panjang dan bergelombang kehídupannya, kehidupan kami semua., aku dan suamiku, ketíga anakku lainnya dan keluarga besarku.

Proses panjang berbagai pemeriksaan sejak Yasin masih dalam kandungan berlanjut hinggan kini. USG kepala, CT Scan, EEG, MRI, tes pendengaran, tes penglihatan… Semua telah dijalani oleh Yasin kecil. Hingga saat ini beragam terapi dijalaninya, menempuh perjalanan panjang dan melelahkan dari tempat tinggal kami di Depok, Jawa barat, ke rumah sakit dan klinik di Jakarta: terapi wicara, okupasi terapi dan fisioterapi.

Berkali-kali sudah Yasin menjalani perawatan untuk berbagai jenis penyakit atau infeksi. Berbulan-bulan saat bayi ia mengalami kejang berulang (infantile spasm) yang sungguh menyakitkan bagiku untuk menyaksikannya.

Saat menjelang dua tahun, ia terserang infeksi berat yang membuat para dokter gelang kepala menyaksikan daya juangnya dan keajaiban kesembuhannya. Ada saat ketika ia hampir meluncur pergi dariku. Saat aku baca tulisan dokter bahwa anakku (Cerebral Palsy), duniaku serasa runtuh. Terpukul, seperti juga saat hasil USG kehamilan 36 minggu mengungkap kelainan otak di janinku: ventrikulomegali (pelebaran ventrikel otak). Saat dokter mata tidak bisa menjelaskan berapa persen penglihatan anakku yang berfungsi, hatiku hancur. Tapi itu dulu.

Sekarang yang ada dalam hatiku hanya rasa syukur, Bahwa Allah selalu mengembalikan Yasín padaku. Bahwa Allah menganggap aku pantas untuk menjadi íbu darí seorang Yasin yang sungguh luar biasa,
Setiap detail perkembangan anakku menjadi momen penuh haru. Mulai berguling sendiri di usia dua tahun, mulai menegakkan kepalanya, mulai duduk, mulai mengunyah, mulai merespon suaraku, mulai mengoceh, mulai tertawa, mulai menarik rambut atau jilbabku. Hal-hal yang oleh para ibu lain mungkin amat biasa atau bahkan mengganggu mereka, menjadi alas an bagiku untuk bersujud syukur dan bershadaqah.

Sejak kecil, aku suka tantangan. Namun, aku tak pernah mengira Alloh akan memberiku tantangan sebesar ini. Tantangan yang membuatku harus mengerahkan seluruh energi, ilmu pengetahuan, kecerdasan, emosi, kasih sayang, kesabaran, ketegasan, dan keberanian untuk menjawabnya,

Aku harus belajar habis-habisan untuk bisa memberi yang terbaik bagi Yasin. Dan lebih dari itu semua, aku merasa makin dekat dengan Allah, yang telah menjawab do’a dan pertanyaanku. Aku tidak pernah lagi bertanya kenapa aku dicoba seperti ini. Aku justru berkata dengan bangga, Alloh pasti sayang sekali pada Yasin dan pada kami semua.

Melihat Yasin anak-anak super spesial lainnya, hatíku jdi lebih lembut dan mudah berempati. Aku tahu gejolak perasaan yang dialami orangtua lain, serta ikut merasakan perjuańgan anak~anak itu untuk mengatasi dan mengalahkan keterbatasan mereka.

Kalau masih orang yang menganggap bahwa anak-anak ini tidak berharga maka sebenarnya merekalah orang yang rugi karena kekerdilan jiwa mereka. Mereka akan sulit merasakan bahagia dan mungkin selalu tidak puas.

Perjalanan Yasin masih teramat panjang untuk bisa mandiri. Aku sendiri tidak tabu kapan ia bisa berjalan, ka’pan ia bisa ke toilet sendiri, kapan ia bisa memanggilku ‘ibu’, kapan ia bisa menatapku penuh cinta. Cuma hari demi hari yang bisa menjawabnya.

Aku tidak tahu sampai kapan Alloh memberiku waktu untuk membimbing Yasin. Pasti ada saat dimana aku merasa terkuras energy dan emosiku. Tapi Alloh selalu mengembalikan tekad dan optimism kepadaku dan Yasin, kepada kami semua. Aku berharap dan berdoa bahwa semua perjuanganku ini dinilai Allah sebagai jihadku dan agar saat aku mati nanti, aku mendapat pahala seperti orang yang syahid di jalanNya,

Saat ini, dengan perjuangannya, Yasin telah banyak memberi pelajaran kepada kami dan banyak orang lain di sekitarnya, Tapi aku berdoa agar kelak Yasin bisa berjíhad entah dengan penanya, dengan lisannya, dengan hafalan Qurannya, dengan jiwa dan hartanya, atau dengan semuanya,

We’ll be the winner yet, Yasin. Kitalah yang akan menjadi pemenang, Anakku. Dengan izin Allah.

    Facebook Comments
    Share Button

    One thought on “Ventrikulomegali, Yasin dan Ummi Dian”

    1. Aq jga pnyA anak sprti umi,,,anakku uda 5 th tp blm bisa jln,nama’a daffa kadang aq merasa apa dosa aq bnyk hingga aq d’ti2pkn anak yg luar biasa dan istimewah.aq pgn bnyk tnya sama umi,ini no hp aq 087888664818

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *