Virus TORCH pada Karim

Karim

Virus TORCH pada Karim adalah kisah tentang Karim yang menyandang Cerebral Palsy yang dituturkan langsung oleh Ummi Yanti.

Sumber : Majalah AULIA

PASTI MANDIRI, BILA ALLAH MENGHENDAKI

Wajah tampan Karim muncul dari balik pintu.Melihat wajah dan kulitnya yang putih cerah,didalam hati, AULIA sempat berkata, “Ganteng yah,” Dibelakang Karim, Yanti – ummi-nya berdiri sambil tersenyum menyambut kedatangan AULIA.

Selepas sholat jum’at, kami lalu bercakap-cakap. Disela-sela itu,sesekali Yanti mengasuh Karim, mengajaknya bicara, memeluknya dan membantunya berjalan. Seringkali juga AULIA mendapati Yanti tengah menatap Karim dengan dalam. Bahasa tubuh Yanti mengungkapkan dengan sangat jelas betapa besar rasa sayangnya pada karim.


“Kalau Alloh berkehendak, pasti Karim bisa mandiri. Tetapi kalau memang tidak bisa, tidak apa-apa. Yang penting semoga saja umur saya lebih panjang dari dia,” tutur Yanti tersenyum.

KEHAMILAN
Karim lahir secara normal, Pada usia kandungan delapan bulan, ia sempat terlilit tali pusar dan dokter menyarankan Yanti untuk operasi caesar. Namun hal itu tidak terjadi karena setelah diberi oksigen, ikatan tali pusarnya melonggar dan Karim bisa lahir secara normal.
Selain persoalan tali pusar, Yanti tidak merasakan masalah lain. Saat kehamilan Karim, Karim yang lahir dengan berat badan empat kilogram ini juga dinyatakan sehat oleh dokter. Selama enam bulan penuh, Yanti memberikan ASI eksklusif pada Karim.
Menginjak usia tiga bulan, Karim belum bisa tengkurap. Kondisi ini berlanjut saat usianya menginjak empat bulan. Di usia lima bulan keadaannya masih sama. Melihat kondísi itu, Yanti lalu membawa Karim untuk diurut.
Melihat kondisinya yang tidak berubah.

Saat usía satu tahun, Yanti Ialu memeriksakan Karim di sebuah rumahsakit. Ketika itulah diketahui bahwa Karim mengalami ventrículomegalia atau pelebaran pembuluh vena di bagian kepala.

NAIK TURUN PERKEMBANGAN KARIM
Karim lalu mengikuti berbagai terapi juga akupuntur. Setelah mengikuti pelatihan selama dua minggu, Karim bisa tengkurap. Lalu dalam tempo satu bulan dia mulai berguling-guling. Secara perlahan, kemampuan lainnya pun bertambah, seperti duduk sambil pegangan tangan, merayap dan melakukan kontak mata.
Namun, di tengah jalan perkembangannya sempat terganggu, Yanti bercerita, suatu hari mereka sekelurga pergi berjalan jalan ke Anyer. Pulang dari sana, Karim Ialu dibawa untuk terapi di sebuah rumah sakit.
Tanpa diduga, di jalan Karim mengalami stuip (kejang). “Matanya ke atas. Kondisi ini bertahan sElama 12 jam,” kenang Yanti. Setelah peristiwa ini, kondisi Karim mengalami kemunduran,
Karim menjadi susah duduk tegak dan hampir setiap bulan sakit. Bahkan, Yanti bercerita, dulu hampir enam bulan sekali Karim harus dirawat di rumah sakit. Akhirnya, Yanti memutuskan untuk berhenti melakukan terapí,
Pada masa-masa vakum terapi itu, Yanti mencoba beberapa pengobatan alternatif, seperti bekam. Perlahan, Karim mulai menunjukkan kemajuan, Pada usia 5,5 tahun, ia mulai bisa berjalan dengan dititah. Lalu usía enam tahun, ia bisa berjalan dengan satu tangannya dipegangi. Kemudian, umur tujuh tahun suaranya mulai terdengar.”Sekarang Karim bisa sebut ‘Mama’,” tutur Yanti.

VIRUS TORCH
Yantí semula tidak menyadari bahwa kondisi Karim berawal dari virus TORCH. Sebelum mengandung Karim, Yanti sempat keguguran karena janinnya tidak berkembang. Sekitar dua bulan setelahnya, ia kembali mengandung tampa mengetahui bahwa kegagalan kehamilan sebelurnnya dísebabkan oleh Virus TORCH,
Baru pada awal januari kemarin, Yanti mulai ngeh dengan virus tersebut. Ia sekeluarga lalu memeriksakan diri ke dokter dan hasil tes menunjukkan Karim dan Yanti terkena virus TORCH. Kakaknya Karim yang kini duduk di Sekolah Menengah Atas (SMA) pun dínyacakan positif.
“Kalau pada kakaknya, efeknya terjadi pada mata kirinya yang hanya berfungsi 10%,” sambung Yanti. Mulaì Februari lalu Karim dan kakaknya diikutkan pada terapi virus TORCH. Dan bulan Juli kemarin, ketíka keduanya dites, alhamdulillah kadar infeksi TORCH mereka sudah berkurang.

BERUSAHA DAN BERSERAH DIRI
Sehari-hari Yanti berusaha semaksimal mungkin mengurus Karim dengan tangannya sendiri. Karena terbiasa dengan hal ini , Yanti merasa tidak tenang jika harus pergì tanpa Karim. “Saya ingin selalu melihat Karim,” ujarnya.
Ia mengakuí bahwa dengan kondísínya, Karim, harus mendapat perlakuan khusus. Dalam hal makanan, misalnya, lantaran Karim juga menderita autis sekunder, ada beberapa makanan yang pantang dikońsumsinya, seperti gula dan terigu. Tubuh Karim juga sensitíf dan mudah alergi, baik dari makanan laut maupun udara.
Yanti sendiri tidak pernah menyerah dengan kondisi Karim. Ia menerima semuanya adalah yang terbaik dari Allah. Dari penerimaan inilah, Yanti mulai membangun kekuatan. menghidupkan harapan, serta optimismenya.
Ia tidak berhenti berikhtiar dan memasrahkan kepada Allah.”Hikmah yang Saya rasakan dengan kondisi ini adalah kini Saya bisa lebíh berserah diri kepada Allah.’ imbuhnya.
Dan bisa jadi, Allah memang melihat upaya yang dilakukan Yanti. Dibandingkan kondisinya yang lalu. sudah banyak perkembangan yang dicapai Karim. Karim kini mampu berjalan, duduk tegak, tidak lagí takut berada di tengah kerumunan orang, bisa bercanda, dan mulai berkomunikasi.

Facebook Comments
Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *